Situasi keamanan di Kabul kembali menjadi sorotan dunia setelah serangkaian laporan menggambarkan kondisi kehidupan yang semakin mencekam sejak kekuasaan diambil alih oleh Taliban pada Agustus 2021.
Di berbagai sudut kota, ledakan dan ancaman kekerasan masih kerap terjadi. Warga mengaku hidup dalam ketakutan setiap kali keluar rumah, menyusul frekuensi serangan yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Dalam sejumlah kesaksian, Kabul bahkan disebut sebagai salah satu kota paling berbahaya di dunia saat ini.
Penguasaan penuh Taliban terhadap ibu kota Afghanistan dimulai setelah runtuhnya pemerintahan sebelumnya dalam peristiwa Fall of Kabul. Sejak saat itu, kehidupan sosial berubah drastis. Kebebasan sipil, terutama bagi perempuan, mengalami pembatasan signifikan.
Aktivitas jurnalistik juga menjadi sangat berisiko. Media independen seperti TOLO News tetap beroperasi di tengah tekanan tinggi, dengan para jurnalis mempertaruhkan nyawa untuk melaporkan kondisi di lapangan. Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan tewas dalam serangan sebelumnya.
Seorang jurnalis perempuan muda yang tetap bertahan di Kabul menggambarkan pekerjaannya sebagai “50 persen ketakutan dan 50 persen keberanian”. Ia tetap meliput isu-isu penting, termasuk aksi perempuan yang menuntut hak pendidikan dan pekerjaan—hak yang kini semakin dibatasi di bawah pemerintahan Taliban.
Selain ancaman terhadap kebebasan sipil, kondisi kemanusiaan juga memburuk. Kemiskinan, kelaparan, serta meningkatnya jumlah pecandu narkoba menjadi pemandangan umum di beberapa wilayah kota. Afghanistan sendiri dikenal sebagai salah satu produsen opium terbesar di dunia, yang turut memperparah krisis sosial.
Taliban, yang kini menjalankan pemerintahan, mengklaim tengah berupaya menjaga keamanan melalui patroli ketat dan pos pemeriksaan di berbagai titik. Namun di lapangan, pendekatan keras dan penerapan hukum berbasis interpretasi ketat syariah menimbulkan kekhawatiran baru, termasuk ancaman hukuman fisik di depan umum.
Situasi semakin kompleks dengan keberadaan kelompok ekstremis lain seperti ISIS-K yang masih aktif melakukan serangan di Afghanistan. Hal ini menciptakan ketidakpastian keamanan yang terus membayangi warga.
Di tengah kondisi tersebut, banyak warga—termasuk mantan pejabat, aktivis, hingga individu dengan identitas tertentu—terpaksa hidup bersembunyi demi keselamatan. Sebagian lainnya mencoba meninggalkan negara itu, meski peluangnya semakin terbatas.
Lebih dari dua tahun sejak perubahan kekuasaan, Kabul kini mencerminkan realitas pahit sebuah kota yang berjuang bertahan di tengah tekanan politik, sosial, dan keamanan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.