Di tengah gelombang besar dan tekanan di laut, nelayan Quảng Nam tetap bertahan melaut dengan kapal modern, menghasilkan tangkapan cumi bernilai miliaran rupiah.
Ketegangan di laut lepas
Rekaman video yang beredar menunjukkan situasi menegangkan ketika sejumlah kapal nelayan Vietnam diduga dikejar kapal pengawas asing saat sedang menangkap ikan. Kapal bernomor 4106 dan 4301 disebut mendekati dan menekan kapal-kapal nelayan yang beroperasi di wilayah tangkapan mereka.
Peristiwa ini disebut terjadi di kawasan Laut Cina Selatan, yang selama ini menjadi area aktivitas nelayan setempat. Meski berada dalam tekanan, para nelayan tetap berupaya menghindari risiko tabrakan sambil menjaga keselamatan awak kapal.
Kapal plastik 32 meter: Modern dan efisien
Di pelabuhan ikan Tam Quan (Quảng Nam), perhatian tertuju pada kapal tangkap jenis mành chụpberbahan plastik dengan panjang 32 meter dan lebar sekitar 7 meter. Kapal ini merupakan impor dari Korea Selatan dan memiliki desain modern dengan haluan bergaya kapal pemecah ombak.
Keunggulan kapal:
Tidak mudah berkarat seperti kapal besi
Biaya perawatan lebih rendah
Umur pakai lebih panjang untuk pelayaran jauh
Peningkatan mesin:
Saat ini menggunakan mesin Weichai 750 tenaga kuda
Direncanakan upgrade ke Mitsubishi S6R2 lebih dari 1.000 tenaga kuda untuk meningkatkan performa saat musim gelombang besar
“Kota cahaya” di tengah laut
Untuk menangkap cumi, kapal dilengkapi lebih dari 400 lampu berdaya tinggi yang dinyalakan pada malam hari guna menarik perhatian ikan dan cumi.
Konsumsi bahan bakar mencapai 600 liter per malam
Dilengkapi sonar dan alat pemindai untuk mendeteksi pergerakan ikan
Nelayan juga melakukan penyelaman langsung untuk mengangkat hasil tangkapan dari laut dalam
Teknologi ini meningkatkan hasil tangkapan, namun juga membuat biaya operasional tetap tinggi.
Hasil melaut hingga miliaran rupiah
Setelah pelayaran selama 20 hingga 25 hari, kapal kembali ke pelabuhan dengan hasil signifikan:
Produksi: 6–7 ton cumi kering
Harga jual: sekitar Rp315.000 – Rp325.000 per kg
Pendapatan: mendekati Rp2 miliar
Meski demikian, fluktuasi harga pasar membuat keuntungan bisa berubah cukup besar setiap perjalanan.
Nelayan memilih tetap di laut sendiri
Seiring modernisasi kapal, sebagian nelayan kini memilih tetap bekerja di dalam negeri dibanding merantau.
“Sekarang tidak perlu kerja jauh ke luar negeri bertahun-tahun. Di sini juga sudah modern, melaut 20 hari sudah bisa dapat penghasilan dan tetap dekat keluarga,” ujar salah satu nelayan.
Kapal plastik 32 meter yang membelah ombak bukan hanya simbol kemajuan teknologi perikanan, tetapi juga mencerminkan ketangguhan nelayan dalam menghadapi tantangan di laut.
Di tengah dinamika dan risiko yang ada, nelayan Quảng Nam terus menjaga keberlangsungan mata pencaharian mereka sekaligus mempertahankan kehadiran di wilayah tangkap tradisional.