Washington D.C., 6 Mei 2026 – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memaparkan operasi besar bertajuk Project Freedom yang diluncurkan pemerintah Donald Trump untuk mengamankan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Rubio menyebut operasi ini bertujuan menyelamatkan sekitar 23.000 warga sipil dari 87 negara yang terjebak di kawasan Teluk Persia akibat blokade yang dituduhkan kepada Iran.
Menurut Rubio, selama lebih dari dua bulan, kapal-kapal komersial tidak dapat bergerak bebas karena ancaman serangan, ranjau laut, hingga kekurangan logistik. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai “pembajakan modern” yang membahayakan keselamatan pelaut sipil.
“Ini bukan operasi ofensif. Ini operasi defensif. Kami tidak akan menembak kecuali ditembak lebih dulu,” tegas Rubio.
Pemerintah AS telah mengerahkan kekuatan militer besar, termasuk kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat, sistem tanpa awak, serta sekitar 15.000 personel militer untuk menciptakan “zona aman” bagi kapal-kapal yang melintas.
Rubio mengungkapkan, sejauh ini beberapa kapal berbendera AS telah berhasil melewati Selat Hormuz dengan aman sebagai bagian dari tahap awal operasi. Ia juga menyebut tujuh kapal cepat Iran telah dilumpuhkan setelah dianggap mengancam.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperempat perdagangan minyak dunia. Rubio menegaskan bahwa tidak ada negara yang berhak menguasai jalur perairan internasional tersebut.
“Tidak ada hukum internasional yang membolehkan sebuah negara menutup jalur global dan menyerang kapal sipil. Ini ilegal dan tidak bisa diterima,” ujarnya.
Selain operasi militer, AS juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui sanksi yang disebut telah berdampak besar pada perekonomian negara tersebut, termasuk inflasi tinggi dan penurunan nilai mata uang.
Rubio menambahkan bahwa Washington tetap membuka jalur diplomasi, namun menegaskan Iran harus bersedia bernegosiasi, termasuk terkait program nuklirnya.
“Pilihan ada di tangan Iran: kembali ke meja perundingan atau menghadapi isolasi dan tekanan yang lebih besar,” katanya.
Operasi ini juga memicu perhatian global, mengingat potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dunia dan harga energi. AS menilai langkah ini penting untuk menjaga kebebasan navigasi dan mencegah preseden berbahaya di jalur perdagangan internasional.