Washington/Timur Tengah – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz semakin meningkat setelah Amerika Serikat dilaporkan mempersiapkan gelombang kedua operasi blokade terhadap Iran. Langkah ini disebut sebagai fase paling agresif dalam upaya menekan Teheran di jalur laut strategis dunia tersebut.
Pemerintahan di Washington mengerahkan kekuatan militer besar-besaran, termasuk dua kapal induk utama yakni USS George H. W. Bush dan USS Abraham Lincoln. Kedua kapal ini membawa puluhan jet tempur, pesawat perang elektronik, serta ribuan personel militer yang siap beroperasi di kawasan Teluk.
Selain itu, lebih dari 15 kapal perang canggih seperti kapal perusak kelas Arleigh Burke dan kapal penjelajah juga telah disiagakan. Pasukan marinir dalam jumlah besar, termasuk unit ekspedisi seperti 31st dan 11th Marine Expeditionary Unit, turut dikerahkan untuk memperkuat operasi.
Dalam 24 jam pertama operasi, laporan menyebutkan tidak ada satu pun kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan Iran. Bahkan, sejumlah kapal komersial terpaksa berbalik arah setelah menghadapi blokade ketat dari Angkatan Laut AS.
Meski demikian, Washington menegaskan bahwa blokade ini tidak menyasar seluruh lalu lintas perdagangan. Kapal-kapal yang tidak menuju pelabuhan Iran masih diizinkan melintas, menandakan bahwa operasi ini difokuskan pada tekanan langsung terhadap Teheran.
Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam. Aktivitas militer meningkat tajam dalam 48 jam terakhir. Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan mengerahkan ratusan kapal cepat bersenjata yang berpatroli di sekitar selat. Strategi “perang asimetris” menjadi andalan, dengan mengandalkan serangan cepat dan jumlah besar untuk mengimbangi kekuatan militer AS.
Selain kapal cepat, Iran juga mengandalkan drone tempur dan pengintai dalam jumlah besar. Diperkirakan lebih dari 200 drone aktif beroperasi di kawasan tersebut, termasuk tipe kamikaze yang dirancang untuk menyerang target laut.
Ancaman lain yang tak kalah serius datang dari ranjau laut. Sumber intelijen menyebut Iran telah menanam ribuan ranjau di perairan Selat Hormuz, yang dapat meledak berdasarkan sensor suara, magnetik, atau kontak langsung dengan kapal.
Sebagai respons, militer AS mengerahkan teknologi canggih untuk pembersihan ranjau, termasuk drone bawah laut dan helikopter pendeteksi ranjau. Operasi ini dinilai berisiko tinggi karena biaya penanganan jauh lebih mahal dibandingkan harga ranjau yang digunakan.
Ketegangan juga terlihat dari insiden sebelumnya, ketika kapal perusak AS menghadapi manuver agresif kapal Iran di selat tersebut. Meski belum terjadi baku tembak langsung, situasi digambarkan seperti “bom waktu” yang dapat meledak kapan saja.
Di tengah eskalasi ini, perhatian dunia tertuju pada dampak global, terutama sektor energi. Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu krisis energi global, termasuk bagi negara besar seperti China yang selama ini menjadi importir utama minyak Iran.
Pengamat menilai, langkah AS tidak hanya bertujuan membuka jalur pelayaran, tetapi juga mengendalikan sepenuhnya akses Iran terhadap ekspor minyaknya. Jika hal ini terjadi, tekanan ekonomi terhadap Teheran dipastikan akan meningkat drastis.
Hingga kini, situasi masih berada di ambang konflik terbuka. Namun dengan kekuatan militer besar yang telah dikerahkan kedua pihak, satu kesalahan kecil saja dikhawatirkan dapat memicu konfrontasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.