Jakarta- Pengacara Ramdan Alamsyah menyampaikan dukungannya terhadap gerakan sosial anti hoaks yang diinisiasi oleh Ahmad Dhani bersama sejumlah tokoh masyarakat dan kalangan profesional. Gerakan tersebut disebut akan dibentuk secara inklusif dan melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk melawan penyebaran informasi bohong di ruang digital.
Dalam keterangannya, Ramdan menjelaskan bahwa diskusi awal gerakan ini bermula dari forum percakapan yang melibatkan sejumlah tokoh, termasuk Helmy Yahya dan para pengacara senior. Menurutnya, fenomena hoaks saat ini sudah berkembang menjadi ancaman serius yang dapat menjatuhkan individu, lembaga, hingga tokoh publik melalui amplifikasi informasi yang tidak tervalidasi.
“Gerakan ini tidak bicara soal profesi atau figur tertentu, tetapi tentang kesatuan pemikiran bahwa informasi bohong sangat berbahaya dan harus dilawan bersama,” ujar Ramdan.
Ia menegaskan bahwa gerakan tersebut nantinya akan melibatkan akademisi lintas kampus, tokoh masyarakat, instansi pemerintah, hingga aparat penegak hukum seperti TNI, Polri, Kejaksaan, dan kementerian terkait agar edukasi literasi digital bisa membumi di tengah masyarakat.
Ramdan menilai penyebaran hoaks kini tidak hanya berasal dari sumber utama, tetapi juga diperkuat oleh proses amplifikasi melalui media sosial, podcast, hingga kutipan yang tidak diverifikasi. Menurutnya, fenomena ini membuat opini yang belum tentu benar seolah menjadi fakta di mata publik.
Ia juga menyoroti pentingnya tanggung jawab moral dalam setiap profesi, termasuk media dan kreator konten digital. Menurutnya, demi mengejar popularitas atau peningkatan pengikut, sebagian pihak kerap mengutip informasi dari sumber yang belum valid sehingga memperbesar penyebaran disinformasi.
“Ketika sumber yang salah terus dikutip dan diperbesar, masyarakat akhirnya menganggap itu sebagai fakta. Inilah yang perlu dilawan bersama,” katanya.
Lebih lanjut, Ramdan menyebut gerakan anti hoaks tersebut akan dilembagakan secara resmi dalam bentuk badan hukum dan terbuka bagi seluruh elemen masyarakat, mulai dari organisasi kemasyarakatan hingga lintas generasi, termasuk generasi muda dan baby boomers.
Menurutnya, gerakan ini penting demi menjaga kualitas generasi Indonesia menuju 2045 agar tidak terbiasa menerima hoaks sebagai sesuatu yang normal dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang ingin kita bangun adalah budaya berpikir kritis, kemampuan membedakan informasi yang benar dan tidak benar, serta peningkatan literasi masyarakat dalam menghadapi arus informasi digital,” tutupnya.