JAKARTA – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menegaskan bahwa makna kepemimpinan sejati adalah bagaimana seorang pemimpin mampu menjawab harapan masyarakat yang telah memberikan kepercayaan.
Sherly menyampaikan bahwa jabatan yang diembannya bukan sekadar posisi, melainkan amanah besar yang harus dijaga dan diwujudkan dalam bentuk nyata.
“Menjadi pemimpin itu berarti kita diberikan harapan oleh masyarakat. Tugas kita adalah menjembatani harapan itu menjadi realitas,” ujarnya Ditemui di Gandaria City, Jakarta Selatan, Sabtu (25/4).
Sherly mengungkapkan, sejak awal menjabat, ia memilih untuk aktif turun langsung ke lapangan, mengunjungi desa-desa, serta mendengar keluhan masyarakat secara langsung. Langkah tersebut dilakukan untuk memahami persoalan secara menyeluruh sebelum mengambil kebijakan.
“Masalah bisa diselesaikan kalau kita tahu apa masalahnya. Karena itu saya turun langsung untuk memetakan persoalan yang ada,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa perannya sebagai pemimpin membawa perubahan besar dalam kehidupannya, terutama dari latar belakang sebagai ibu rumah tangga. Namun, interaksi langsung dengan masyarakat justru menjadi sumber energi tersendiri baginya.
“Ketika bertemu masyarakat, saya merasakan begitu banyak harapan yang mereka titipkan. Itu yang membuat saya kuat dan bertahan,” jelasnya.
Seiring waktu, Sherly mengaku memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat yang dipimpinnya. Ia bahkan menganggap warga Maluku Utara layaknya keluarga sendiri.
“Lama-lama saya jadi sayang dengan mereka. Saya menganggap masyarakat seperti anak-anak saya sendiri,” ungkapnya.
Di tengah kesibukan sebagai kepala daerah, Sherly tetap berupaya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ia menekankan pentingnya waktu untuk diri sendiri (me time) agar tetap produktif dan tidak mengalami kelelahan berlebih.
“Harus ada keseimbangan. Kalau tidak, kita bisa burnout. Jadi tetap harus ada waktu untuk diri sendiri,” tuturnya.
Terkait keluarga, Sherly menyebut komunikasi tetap terjaga meski terpisah jarak. Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang dan mengambil keputusan sendiri.
“Tugas orang tua bukan menggantikan keputusan anak, tapi memastikan mereka siap dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya,” katanya.
Pernyataan Sherly ini mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang humanis, dengan fokus pada kedekatan dengan masyarakat serta keseimbangan antara tanggung jawab publik dan kehidupan pribadi.