Kapal pesiar terbesar di dunia, Icon of the Seas, bukan sekadar destinasi liburan mewah di tengah laut. Di balik kolam renang infinity, taman air raksasa, dan 20 dek hiburan, tersembunyi sistem rekayasa kelas tinggi yang lebih mirip kapal selam nuklir dibanding kapal wisata biasa.
Diluncurkan dari Miami pada Januari 2024, kapal senilai USD 2 miliar itu mampu membawa hampir 10.000 orang sekaligus, termasuk sekitar 2.350 kru. Dengan bobot mencapai 250.800 gross ton, kapal milik Royal Caribbean International tersebut menjadi simbol baru teknologi maritim modern.
Salah satu inovasi paling mencolok adalah “The Pearl”, instalasi seni baja setinggi 52 kaki yang ternyata bukan sekadar dekorasi. Struktur berbentuk bola itu menopang beban tiga dek di atasnya sekaligus memungkinkan cahaya alami masuk ke area promenade utama yang sebelumnya selalu tertutup pada desain kapal-kapal generasi lama.
Tak hanya megah, desain kapal juga dibuat untuk mengatasi kepadatan ribuan penumpang. “Icon of the Seas” dibagi menjadi delapan zona atau “neighborhoods” yang masing-masing memiliki tema berbeda. Mulai dari kawasan keluarga Surfside, area wahana ekstrem Thrill Island, hingga Hideaway yang khusus untuk orang dewasa dengan infinity pool dan suasana beach club.
Konsep tersebut membuat ribuan penumpang bisa tersebar tanpa terasa sesak meski kapal beroperasi penuh. Bahkan, area atas kapal yang sebelumnya dianggap terlalu berangin untuk bersantai diubah menjadi taman air terbesar di laut dengan enam seluncuran raksasa, termasuk wahana freefall pertama di dunia untuk kapal pesiar.
Di balik kemewahan itu, tersembunyi mesin-mesin raksasa penghasil tenaga. Enam mesin utama Wärtsilä menghasilkan listrik hingga 46 megawatt, ditambah sistem propulsi sebesar 84 megawatt — cukup untuk memasok energi sebuah kota kecil.
Menariknya, kapal ini menggunakan bahan bakar LNG (liquefied natural gas) yang lebih ramah lingkungan. Dua tangki kriogenik raksasa menyimpan gas alam cair bersuhu minus 260 derajat Fahrenheit, memungkinkan emisi sulfur hampir nol dan pengurangan polusi sekitar 20 persen dibanding bahan bakar kapal konvensional.
Teknologi efisiensi energinya pun luar biasa. Panas buangan mesin tidak dibuang sia-sia, melainkan digunakan kembali untuk memanaskan kolam renang, memproduksi air tawar, mencuci linen, hingga memasak makanan di dapur kapal.
Bahkan, sampah makanan dan limbah kapal diproses menggunakan teknologi microwave-assisted pyrolysis, yakni sistem yang mengubah sampah menjadi gas untuk dipakai kembali sebagai sumber energi. Sisa karbon hasil proses tersebut kemudian dijadikan pupuk.
Untuk manuver, kapal ini menggunakan tiga sistem ABB Azipod berkekuatan 20 megawatt per unit. Teknologi tersebut memungkinkan kapal sepanjang hampir 1.200 kaki berputar di tempat dan parkir dengan presisi tinggi tanpa bantuan kapal tunda.
Stabilitas kapal juga dikendalikan secara otomatis menggunakan ballast tank dan sirip stabilizer bawah laut yang bergerak ribuan kali per menit menyesuaikan ombak dan distribusi berat penumpang. Bahkan ketika ribuan orang berkumpul di satu sisi kapal untuk melihat matahari terbenam, sistem komputer langsung menyeimbangkan kapal secara real-time.
Di sektor layanan, “Icon of the Seas” beroperasi layaknya kota mandiri. Kapal ini memiliki rumah sakit lengkap dengan ICU dan ruang operasi, fasilitas pengolahan air laut menjadi air tawar, hingga sistem pengolahan limbah yang diklaim menghasilkan air lebih bersih dibanding banyak kota di daratan.
Setiap hari, lebih dari 60.000 porsi makanan disiapkan di lebih dari 40 restoran dan bar. Semua logistik diangkut melalui koridor rahasia khusus kru yang disebut “I-95”, membentang dari haluan hingga buritan tanpa terlihat oleh penumpang.
Dengan pendapatan rata-rata mencapai USD 290 per penumpang per hari, termasuk tiket dan pengeluaran di atas kapal, proyek raksasa ini dinilai sangat menguntungkan. Tak heran, Royal Caribbean Group sudah menyiapkan empat kapal kelas Icon berikutnya, termasuk Star of the Seas dan Legend of the Seas.
Pembangunan “Icon of the Seas” sendiri dilakukan di galangan kapal Meyer Turku, Finlandia, selama sekitar 900 hari menggunakan 201 blok baja prefabrikasi dan teknologi digital twin yang memodelkan seluruh kapal secara virtual sebelum dirakit.
Hasil akhirnya adalah sebuah “kota terapung” supercanggih, tempat ribuan orang bisa berlibur tanpa pernah menyadari kompleksitas teknologi yang bekerja diam-diam di bawah kaki mereka.