Momen penuh emosi mewarnai penampilan grup musik Hallway dalam ajang Band Academy Indosiar. Meski sebelumnya mendapat berbagai masukan dari para juri, penampilan terbaru mereka justru menuai apresiasi tinggi berkat semangat, kekompakan, dan keberanian mereka mengusung musik alternatif metal di panggung kompetisi.
Salah satu sorotan utama tertuju kepada vokalis Hallway, Aisyah. Para juri menilai penampilannya malam itu menunjukkan mental yang kuat dan semangat untuk terus berkembang. Mereka mengapresiasi bagaimana Aisyah mampu bangkit dari kritik yang diterimanya pada penampilan sebelumnya.
Musisi dan juri Pongki Barata memberikan pujian terhadap keseluruhan penampilan Hallway. Menurutnya, seluruh personel tampil maksimal dan menunjukkan identitas musikal yang kuat. Ia bahkan menyebut aransemen Hallway memiliki nuansa yang mengingatkannya pada band rock alternatif legendaris The Smashing Pumpkins.
Selain mengapresiasi permainan gitar dan keyboard yang dinilai futuristis serta menggelegar, para juri juga memuji keberanian Hallway membawa genre metal alternatif ke panggung kompetisi. Mereka menyebut Hallway sebagai band dengan karakter musik paling keras yang pernah tampil di Band Academy musim ini.
Meski demikian, para juri tetap memberikan catatan agar Hallway semakin memperkuat kekompakan permainan antar instrumen. Menurut mereka, harmonisasi antara bass, gitar, drum, dan keyboard sudah menjadi modal besar yang harus terus diasah agar menghasilkan karakter suara yang semakin solid di masa depan.
Di balik pujian tersebut, suasana haru muncul ketika sang ibu, Andini, diberikan kesempatan berbicara di atas panggung. Ia mengungkapkan perjuangan berat yang telah dilalui Aisyah untuk mencapai titik saat ini.
Menurutnya, Aisyah masih berusia remaja dan harus berjuang menghadapi rasa gugup, overthinking, serta berbagai ketidakpercayaan diri selama mengikuti kompetisi. Ia juga menilai banyak penonton yang tidak mengetahui betapa besar usaha putrinya untuk bisa berdiri di panggung sebesar Band Academy.
“Aisyah berjuang sangat keras dari awal sampai bisa berada di titik ini. Kadang penampilannya tidak sempurna karena rasa gugup dan tekanan yang dia rasakan,” ungkap Andini.
Dukungan juga datang dari rekan satu band, Altaf, yang mengaku merasa sedih melihat Aisyah menerima tekanan besar selama kompetisi. Ia menegaskan bahwa Aisyah sebenarnya memiliki karakter vokal yang kuat dan berpotensi menjadi seorang rockstar.
Para juri kemudian menjelaskan bahwa kritik yang diberikan bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan bagian dari proses pembelajaran. Mereka menegaskan bahwa dunia musik profesional jauh lebih keras sehingga para peserta perlu dipersiapkan secara mental sejak dini.
Pongki Barata juga menyampaikan pesan penting kepada seluruh personel Hallway. Menurutnya, keberhasilan sebuah band dalam jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh trofi atau gelar juara, melainkan oleh karya yang mampu hidup di hati para pendengar.
“Kalau piala tempatnya di rak, karya tempatnya di hati,” ujar Pongki yang disambut tepuk tangan meriah penonton.
Menutup sesi komentar, para juri sepakat bahwa Hallway memiliki aura dan identitas yang tidak dimiliki semua band. Mereka optimistis grup tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang dan menjadi salah satu band masa depan Indonesia apabila terus mempertahankan konsep musik yang mereka usung saat ini.
Dukungan penuh dari juri, keluarga, dan sesama personel menjadi bukti bahwa perjalanan Hallway di Band Academy bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga tentang proses membangun mental, karakter, dan karya untuk masa depan industri musik Indonesia.