Jakarta – Sebuah laporan yang diulas kanal perjalanan Travel Docs Hub menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perempuan di sejumlah negara Asia. Di balik keindahan alam, kekayaan budaya, dan sejarah panjang negara-negara tersebut, terdapat realitas sosial yang memperlihatkan bagaimana banyak perempuan harus menghadapi kemiskinan, kesepian, kekerasan, hingga ketidaksetaraan gender.
Laporan tersebut menempatkan sembilan negara yang dinilai memiliki jumlah perempuan lebih besar dibanding laki-laki, dengan berbagai faktor penyebab mulai dari migrasi tenaga kerja, konflik bersenjata, hingga tingginya angka kematian pria.
Di posisi kesembilan, Armenia disebut memiliki populasi perempuan sekitar 55 persen dari total penduduk. Sejarah konflik, migrasi tenaga kerja, serta tingginya angka kematian laki-laki menjadi faktor utama ketimpangan tersebut. Selain itu, perempuan Armenia masih menghadapi persoalan kekerasan dalam rumah tangga dan terbatasnya fasilitas perlindungan bagi korban.
Posisi kedelapan ditempati Georgia. Negara yang berada di persimpangan Eropa dan Asia ini mengalami gelombang migrasi tenaga kerja sejak runtuhnya Uni Soviet. Banyak laki-laki memilih bekerja di luar negeri, sementara perempuan menghadapi tantangan berupa diskriminasi gender, kekerasan, serta keterwakilan yang masih rendah dalam dunia politik.
Sementara itu, Nepal berada di peringkat ketujuh. Negara yang dikenal dengan Pegunungan Himalaya tersebut masih menghadapi tingkat kemiskinan yang tinggi. Banyak laki-laki bekerja di luar negeri sehingga perempuan harus memikul tanggung jawab keluarga. Selain itu, praktik pernikahan dini, perdagangan manusia, dan stigma terhadap perempuan janda masih menjadi persoalan sosial yang serius.
Di urutan keenam terdapat Sri Lanka. Meskipun terkenal sebagai destinasi wisata tropis, negara ini masih bergelut dengan tekanan ekonomi dan sosial. Rendahnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja, kesenjangan upah, serta tingginya angka pelecehan di ruang publik menjadi tantangan yang dihadapi perempuan Sri Lanka.
Peringkat kelima ditempati Kazakhstan. Meski kaya sumber daya alam seperti minyak dan gas, banyak perempuan di negara tersebut masih menghadapi tekanan ekonomi dan kekerasan domestik. Harapan hidup perempuan yang lebih tinggi dibanding laki-laki juga menjadi salah satu penyebab jumlah perempuan lebih dominan.
Di posisi keempat, Vietnam dinilai masih menghadapi persoalan ketimpangan gender meskipun ekonominya berkembang pesat. Banyak perempuan menjadi korban kekerasan fisik, emosional, maupun ekonomi, sementara sebagian besar kasus tidak pernah dilaporkan.
Urutan ketiga ditempati Lebanon yang masih dibayangi krisis ekonomi dan dampak konflik regional. Banyak perempuan menghadapi keterbatasan hak dalam urusan keluarga, tingginya angka kekerasan domestik, serta praktik pernikahan anak yang masih ditemukan di sejumlah komunitas.
Sementara itu, Cambodia berada di posisi kedua. Kemiskinan, keterbatasan akses air bersih dan sanitasi, serta praktik perdagangan perempuan untuk pernikahan lintas negara menjadi tantangan yang masih membayangi kehidupan perempuan Kamboja.
Adapun posisi pertama ditempati Kyrgyzstan. Negara pegunungan ini masih menghadapi kemiskinan dan ketidakstabilan ekonomi yang mendorong banyak laki-laki bekerja di luar negeri. Di sisi lain, perempuan kerap menghadapi tekanan sosial, stereotip gender, serta tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa di balik angka statistik mengenai populasi, kemiskinan, maupun migrasi tenaga kerja, terdapat jutaan perempuan yang harus berjuang menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan ekonomi, tetapi juga perlindungan, kesempatan yang setara, penghormatan terhadap hak-hak mereka, serta lingkungan yang aman untuk menjalani kehidupan.
Menurut laporan itu, persoalan yang dihadapi perempuan di berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa dampak kemiskinan, konflik, dan ketidakadilan sosial sering kali dirasakan paling berat oleh kaum perempuan, terutama ketika mereka harus menjadi tulang punggung keluarga di tengah keterbatasan yang ada.