Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations kembali menyampaikan peringatan keras terhadap memburuknya krisis kemanusiaan global dalam konferensi pers internasional yang digelar di markas besar PBB. Konflik di Gaza, Suriah, Yaman, Lebanon, Somalia hingga Sudan menjadi sorotan utama karena dinilai telah mencapai tingkat darurat yang mengkhawatirkan.
Dalam laporan terbaru, PBB menyebut lebih dari 85 persen penduduk Gaza telah mengungsi akibat perang berkepanjangan pasca serangan Hamas pada Oktober 2023. Situasi di wilayah tersebut disebut sebagai “bencana kemanusiaan berskala besar” dengan jutaan warga hidup di lokasi pengungsian yang padat dan minim layanan kesehatan.
PBB juga menyoroti terbatasnya akses bantuan kemanusiaan ke Gaza. Selama 11 hari pertama Mei, hanya separuh truk bantuan dari Mesir yang diizinkan masuk melalui perbatasan yang dikendalikan Israel. Kondisi ini memperparah krisis pangan, sanitasi, hingga ancaman penyakit di kawasan tersebut.
Di Suriah, Dewan Keamanan PBB membahas upaya transisi politik dan pemindahan staf PBB dari Jenewa ke Damaskus. Namun, PBB memperingatkan bahwa sekitar 15,6 juta warga Suriah masih membutuhkan bantuan kemanusiaan, sementara pendanaan internasional baru terpenuhi sekitar 16 persen dari total kebutuhan tahun ini.
Sementara itu, secercah harapan muncul dari Yaman setelah tercapai kesepakatan pembebasan lebih dari 1.600 tahanan konflik. Kesepakatan yang dimediasi PBB di Yordania tersebut menjadi pembebasan tahanan terbesar sejak perang Yaman dimulai.
Krisis kelaparan juga menjadi perhatian besar PBB. Di Somalia, sekitar 6 juta orang kini menghadapi ancaman rawan pangan akut dan risiko kelaparan massal kembali muncul akibat kekeringan ekstrem serta minimnya bantuan internasional. Sedangkan di Sudan, hampir 19,5 juta warga dilaporkan mengalami krisis pangan serius dengan 14 wilayah berada di ambang bencana kelaparan.
Selain konflik dan krisis pangan, PBB mengungkap meningkatnya ancaman terhadap personel kemanusiaan. Sebuah kendaraan bantuan PBB di Ukraina dilaporkan terkena serangan dua kali saat menjalankan misi kemanusiaan. Di Lebanon, pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon juga menghadapi situasi keamanan yang semakin memburuk akibat serangan udara dan baku tembak lintas perbatasan.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres kembali menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional dan perlindungan penuh bagi warga sipil serta pekerja kemanusiaan di seluruh wilayah konflik.
Di tengah meningkatnya ketegangan global, PBB menegaskan bahwa solidaritas internasional dan dukungan pendanaan kemanusiaan menjadi kunci untuk mencegah jutaan nyawa jatuh dalam krisis yang lebih besar.