New York — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menyoroti sejumlah krisis global yang kian memburuk, mulai dari ancaman kelaparan di Afrika, konflik bersenjata di Timur Tengah, hingga gangguan ekonomi akibat ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
Dalam konferensi pers terbaru, sejumlah pejabat PBB dan badan kemanusiaan seperti World Food Programme (WFP), Food and Agriculture Organization (FAO), dan UNICEF memaparkan kondisi darurat yang tengah terjadi, khususnya di South Sudan dan kawasan Afrika lainnya.
Krisis Pangan dan Kemanusiaan Memburuk
Laporan terbaru sistem klasifikasi ketahanan pangan menunjukkan situasi kritis di Sudan Selatan, sementara di Somalia lebih dari 1,8 juta anak mengalami malnutrisi akut. Konflik, perubahan iklim, serta lonjakan harga akibat gangguan perdagangan global memperparah kondisi tersebut.
PBB mencatat, penutupan jalur vital seperti Strait of Hormuz telah memicu lonjakan harga energi dan pangan. Data menunjukkan lalu lintas kapal turun hingga 95%, sementara harga minyak mentah di Eropa melonjak lebih dari 50%.
Timur Tengah Kian Memanas
Situasi di Gaza Strip dan West Bank terus memburuk. PBB melaporkan serangan mematikan masih berlangsung, disertai keterbatasan akses bantuan kemanusiaan.
Di Lebanon, sedikitnya 149 serangan terhadap fasilitas kesehatan telah dilaporkan. Ribuan warga masih mengungsi, sementara akses bantuan terhambat akibat kerusakan infrastruktur.
Sementara itu, utusan khusus PBB terus melakukan diplomasi di kawasan, termasuk ke Iran, Saudi Arabia, dan Egypt untuk meredakan ketegangan pasca eskalasi militer.
Sudan dan Suriah: Kekerasan Terus Berlanjut
Di Sudan, serangan drone dilaporkan menewaskan warga sipil di kamp pengungsi. Sementara laporan UNICEF mengungkap lebih dari 1.500 pelanggaran serius terhadap anak sejak 2024.
Di Syria, pelanggaran HAM seperti penahanan sewenang-wenang dan penghilangan paksa masih terjadi, termasuk di wilayah timur laut.
Afghanistan Terancam Kehilangan Generasi Perempuan
PBB juga memperingatkan bahwa Afghanistan berisiko kehilangan puluhan ribu tenaga pengajar perempuan akibat pembatasan pendidikan bagi anak perempuan. Hingga kini, lebih dari 1 juta anak perempuan tidak dapat mengakses pendidikan menengah.
Selain itu, konflik perbatasan dengan Pakistan telah menyebabkan lebih dari 100.000 orang mengungsi.
Seruan Global
PBB menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan mendesak semua pihak mematuhi hukum humaniter internasional. Sekretaris Jenderal juga menekankan bahwa ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil telah menciptakan sistem energi yang rentan dan tidak stabil.
Di tengah berbagai krisis ini, PBB mengingatkan bahwa solidaritas global dan komitmen pendanaan sangat dibutuhkan untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar.
“Dunia tidak boleh terbiasa dengan penderitaan ini,” tegas perwakilan PBB, seraya menyoroti meningkatnya serangan terhadap tenaga kesehatan di berbagai zona konflik.
Artikel Terkait
Fergie Giovanna Brittany Ungkap Tantangan Ekstrem Prostetik di Film AIN, Sempat Alami Panic Attack Saat Syuting
Kunjungan Kenegaraan Raja Charles III ke AS Disorot, Isu Politik hingga Pangeran Harry Jadi Perhatian
Film Body Horror Indonesia Angkat Fenomena ‘Ain’, Sutradara Andalkan Dua Pemain Utama
Presiden Prabowo Subianto Resmikan Ground Breaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap 2”