Selat Hormuz — Operasi militer rahasia di bawah laut dilaporkan berhasil melumpuhkan jaringan sensor strategis di dasar Selat Hormuz pada 7 April 2026. Aksi senyap ini disebut melibatkan unit elit Amerika Serikat yang bergerak di kedalaman puluhan meter demi membuka jalur aman bagi armada militer.
Dalam operasi tersebut, dua penyelam militer, Petty Officer Reyes dan Chief Torres, menyusup menggunakan drone bawah laut Mark 18 Mod 2. Mereka menargetkan jaringan sensor berbasis serat optik yang diduga dioperasikan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps Navy, yang selama ini berfungsi sebagai sistem pemantauan kapal di salah satu jalur energi tersibuk dunia.
Jaringan tersebut memungkinkan setiap kapal yang melintas terdeteksi, dilacak, dan dianalisis secara real-time, menjadikan kawasan ini sebagai titik pengawasan ketat dengan potensi konflik tinggi.
Dalam kondisi gelap gulita dan tekanan tinggi, tim menemukan kabel utama jaringan sensor yang tertanam di dasar laut. Dengan waktu terbatas akibat patroli kapal di atas permukaan, mereka harus mengambil keputusan cepat. Pemotongan kabel utama menjadi pilihan utama, meski berisiko memicu alarm otomatis dalam hitungan detik.
Saat patroli mulai mendekat dan menurunkan perangkat pendengar (hydrophone), tim menghentikan seluruh pergerakan untuk menghindari deteksi. Setelah celah waktu terbuka, Reyes memotong kabel utama menggunakan alat hidrolik, sementara Torres memasang perangkat spoofing untuk mengirim sinyal palsu ke pusat komando.
Langkah ini terbukti efektif. Sistem di bagian utara langsung lumpuh, sementara node di bagian selatan tetap “terlihat normal” berkat manipulasi sinyal. Strategi ini memberi waktu krusial sebelum pihak lawan menyadari adanya gangguan.
Situasi sempat memanas ketika kapal patroli meningkatkan aktivitas dengan menurunkan sensor tambahan dan membangun jaringan deteksi baru di lokasi operasi. Namun, tim berhasil menghindar dengan memanfaatkan medan dasar laut dan jalur sempit yang meminimalkan jejak akustik.
Setelah misi selesai, kedua penyelam melarikan diri menggunakan kendaraan bawah air berawak (SDV) dan berhasil dievakuasi oleh kapal selam pendukung. Laporan awal menyebutkan jaringan sensor utama berhasil dinonaktifkan, dengan efek gangguan diperkirakan berlangsung selama 6 hingga 12 jam.
Jendela waktu tersebut dinilai cukup untuk membuka akses bagi armada militer yang direncanakan melintas di kawasan itu.
Namun, perkembangan terbaru mengindikasikan situasi belum sepenuhnya aman. Citra satelit menunjukkan kemunculan empat kapal misterius tanpa identitas di jalur strategis Selat Hormuz. Posisi dan pola pergerakan kapal-kapal tersebut dinilai mencurigakan dan diduga telah disiapkan sebelumnya.
Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa pihak lawan telah mengantisipasi gangguan jaringan bawah laut dan mengalihkan strategi ke permukaan.
Meski operasi bawah laut dinilai sukses secara teknis, dinamika di kawasan Selat Hormuz masih sangat cair dan berpotensi memicu eskalasi baru dalam ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, terutama di jalur vital distribusi energi global tersebut.
Artikel Terkait
Barcelona vs Atlético Madrid Berakhir 4-4, Duel Gila Delapan Gol di Semifinal
Angga Wijaya Ingin Pertahankan Rumah Tangga, Mediasi Belum Temui Titik Terang
Clara Shinta Disomasi Rp10,7 Miliar oleh Indah
Giorgino Abraham Santai Soal Jodoh Usai Putus, Akui Masih Simpan Kenangan dengan Mantan