Mantan TKW Asal Lombok Ungkap Dugaan Pelecehan, Serukan Perlindungan bagi Pekerja Migran Perempuan

Minggu, 14/06/2026
Mantan TKW Asal Lombok Ungkap Dugaan Pelecehan, Serukan Perlindungan bagi Pekerja Migran Perempuan
Seorang mantan tenaga kerja wanita (TKW) asal Lombok

Citraselebriti – Seorang mantan tenaga kerja wanita (TKW) asal Lombok memberanikan diri mengungkap pengalaman pahit yang pernah dialaminya saat bekerja di luar negeri. Dalam sebuah kesempatan, ia mengaku kisah yang diangkat melalui karakter Caca dalam sebuah film sangat dekat dengan pengalaman pribadinya sehingga mendorongnya untuk berbicara di depan publik.

Dengan suara bergetar, perempuan tersebut mengakui bahwa berbicara mengenai pengalaman traumatis yang dialaminya bukanlah hal mudah. Namun, ia memilih untuk menyampaikan kisahnya agar tidak ada perempuan lain yang mengalami kejadian serupa.

Menurut pengakuannya, peristiwa tersebut terjadi pada Januari tahun ini ketika dirinya bekerja sebagai TKW. Ia mengungkapkan bahwa pihak yang diduga melakukan tindakan tersebut justru berasal dari agensi yang menaunginya saat bekerja di luar negeri.

Akibat pengalaman tersebut, ia mengaku sempat mengalami tekanan mental yang berat hingga pernah memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Ia juga mengaku kesulitan mencari tempat untuk mengadukan kasus yang dialaminya karena minimnya bukti yang dimiliki.

Dalam pernyataannya, ia meminta perhatian pemerintah, pihak imigrasi, serta lembaga perlindungan perempuan untuk mendengarkan suara para korban yang mengalami kekerasan maupun eksploitasi. Menurutnya, banyak korban yang memilih diam karena takut, trauma, dan khawatir menghadapi berbagai stigma dari masyarakat.

Ia menambahkan bahwa dari pengalaman yang dialaminya, perempuan sering kali menjadi sasaran eksploitasi dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi keuntungan tertentu. Karena itu, kehadiran kisah serupa dalam film membuatnya merasa para penyintas akhirnya memiliki ruang untuk didengar.

“Bagi kami, tampil di depan publik dan menceritakan pengalaman yang menyakitkan bukanlah hal yang mudah. Kami harus menghadapi rasa takut, trauma, berbagai komentar dan cibiran dari lingkungan sekitar maupun media sosial, bahkan dari keluarga sendiri,” ungkapnya ditemui disela usai prescteebing film Saat Aku Bersuara di Plaza Senayan, Jakarta, Minggu (14/6).

Meski demikian, ia tetap memilih bersuara demi mencegah terulangnya kasus serupa terhadap perempuan Indonesia lainnya, khususnya para pekerja migran yang bekerja di luar negeri.

Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap perlindungan pekerja migran perempuan serta mengambil langkah konkret untuk mencegah praktik-praktik eksploitasi dan kekerasan yang masih terjadi.

Menutup pernyataannya, perempuan asal Lombok tersebut menegaskan bahwa setiap korban berhak mendapatkan keadilan, perlindungan, dan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman mereka tanpa rasa takut.

“Saya berani membagikan kisah saya karena saya percaya setiap korban berhak mendapat keadilan, perlindungan, dan kesempatan untuk didengar,” tuturnya.

Tags

Terkini