JAKARTA – Ruben Onsu akhirnya memberikan tanggapan terkait polemik hak bertemu anak dan berbagai isu yang mencuat pasca perceraiannya. Melalui sambungan telepon dalam konferensi pers yang digelar kuasa hukumnya, Minola Sebayang, Ruben mengaku perlu menggunakan hak jawab untuk meluruskan sejumlah informasi yang dinilainya berkembang menjadi simpang siur.
Dalam keterangannya, Ruben mengaku selama dua tahun terakhir memilih lebih banyak diam dan berharap persoalan yang ada dapat selesai dengan baik. Namun, menurutnya, berbagai isu justru terus berkembang dan menimbulkan beragam persepsi di masyarakat.
“Ini bukan sesuatu yang mau dibanggakan. Dua tahun terakhir memang saya lebih banyak diam. Saya pikir ini akan selesai, tetapi ternyata menjadi bola liar terus untuk berbagai pihak. Karena itu saya meminta Bang Minola meluruskan berdasarkan data yang saya punya dan berdasarkan apa yang saya jalani,” ujar Ruben.
Ruben menegaskan dirinya telah berupaya menjalin komunikasi secara langsung, termasuk melalui pesan WhatsApp. Namun, menurutnya, komunikasi tersebut tidak berjalan baik sehingga akhirnya ia memilih menempuh jalur melalui kuasa hukum.
“Saya sudah mencoba berkomunikasi lewat WhatsApp. Kenapa harus lewat pengacara? Karena komunikasi secara langsung ujung-ujungnya tidak baik dan masih terus saling menyakitkan. Justru saya memilih lewat pengacara supaya ada jalan tengah dan tidak saling menyakitkan,” katanya.
Terkait upayanya untuk bertemu anak-anak, Ruben menyebut seluruh bukti komunikasi dan permintaannya telah dilampirkan kepada tim kuasa hukum. Ia menegaskan keinginannya hanya menjalankan hak yang telah diatur dalam putusan pengadilan.
“Kalau memang mudah, tidak mungkin saya sampai meminta bantuan pengacara. Saya hanya meminta apa yang sudah menjadi ketentuan berdasarkan pengadilan. Jalan tengahnya seperti apa, itu yang harus dibicarakan oleh kuasa hukum masing-masing,” ungkapnya.
Ruben juga menanggapi isu mengenai nafkah anak yang belakangan ramai diperbincangkan. Ia mengaku kecewa apabila penilaian terhadap tanggung jawabnya hanya didasarkan pada beberapa bulan terakhir.
“Kalau dibahas soal nafkah lagi, masa hanya dilihat enam bulan terakhir. Keringat dan kerja keras saya selama ini ke mana? Kalau memang saya dianggap tidak sanggup, serahkan saja anak-anak kepada saya, saya yang membesarkan,” tegas Ruben.
Di tengah kerinduannya kepada anak-anak, Ruben mengaku memilih menghabiskan waktu bersama anak-anak di panti asuhan sebagai cara mengobati rasa rindu. Ia mengatakan beberapa kali datang langsung ke panti asuhan untuk bermain dan berinteraksi dengan anak-anak.
“Saya tidak mau jadi melow. Jadi saya datang ke panti asuhan anak. Saya ingin merasakan suasana bersama anak-anak. Setelah itu saya merasa lebih tenang dan bisa melanjutkan pekerjaan tanpa membawa suasana sedih,” tuturnya.
Ruben menyebut persoalan yang sedang dihadapinya sebagai ujian hidup yang harus dijalani dengan ikhlas. Ia memilih menyampaikan apa yang diketahuinya tanpa melebihkan maupun mengurangi fakta yang ada.
Sementara itu, kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menyoroti sejumlah pemberitaan yang dinilainya berpotensi membentuk opini negatif terhadap kliennya. Salah satunya adalah berita yang menyebut Ruben tidak membayar biaya sekolah anak setelah perceraian.
“Ini yang sangat kami sayangkan. Kemarin sudah kami tunjukkan berapa besar uang bulanan yang diberikan Ruben. Tetapi kemudian muncul pemberitaan yang seolah-olah Ruben tidak bertanggung jawab. Ini seperti upaya memframing sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta,” kata Minola.
Menurut Minola, pihaknya berharap klarifikasi yang disampaikan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh kepada publik mengenai situasi yang sebenarnya terjadi antara Ruben dan mantan istrinya pasca perceraian.