Memasuki 40 hari kepergian penyanyi Vidi Aldiano, muncul sebuah gagasan yang menyentuh banyak pihak: “Vidi Tetap Hidup”. Pemikiran ini turut disorot oleh pendakwah muda Husein Ja’far Al Hadar yang menilai ungkapan tersebut selaras dengan nilai-nilai dalam Islam.
Pengajian 40 hari digelar secara khidmat di Masjid Raya Nurul Hidayah pada Sabtu (18/4/2026) malam. Acara ini dihadiri keluarga, sahabat, serta para penggemar yang datang untuk mendoakan dan mengenang sosok almarhum.
Suasana haru terasa sepanjang acara yang diisi dengan pembacaan Yasin, tahlil, serta tausyiah oleh Husein Ja’far Al Hadar. Dalam ceramahnya, ia menyoroti kebaikan-kebaikan almarhum sekaligus menjelaskan makna di balik ungkapan “tetap hidup”.
Dari pihak keluarga, ibunda Vidi, Besbarini, mengungkapkan bahwa menantu sekaligus istri almarhum, Sheila Dara, perlahan mulai bangkit dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Sementara itu, ayah Vidi, Harry Kiss, mengaku masih merasakan kehadiran sang putra dan rutin berziarah selama 40 hari terakhir.
Almarhum Vidi Aldiano meninggal dunia pada 7 Maret 2026 setelah berjuang melawan kanker ginjal stadium 3 sejak 2019. Ia berpulang di usia 35 tahun.
Dalam tausyiahnya, Husein Ja’far Al Hadar menjelaskan bahwa konsep “tetap hidup” tidak dimaknai secara fisik, melainkan sebagai keberlanjutan amal, doa, dan kenangan baik yang terus mengalir. “Dalam Islam, kematian bukan akhir, melainkan perpindahan dari kehidupan dunia ke kehidupan berikutnya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Islam sangat memuliakan manusia, bahkan setelah wafat. Hal itu tercermin dalam kewajiban fardu kifayah seperti memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkan jenazah.
Lebih lanjut, ia mengingatkan ajaran Nabi Muhammad tentang amalan yang tidak terputus pahalanya. Dari sinilah gagasan “Vidi Tetap Hidup” menemukan maknanya—bahwa seseorang tetap hidup melalui jejak kebaikan yang ditinggalkan.
Menurutnya, ada tiga cara utama untuk “menghidupkan” almarhum: melanjutkan kebaikan semasa hidupnya, menghadiahkan amal seperti sedekah atau wakaf atas namanya, serta mendoakan dan mengenang dengan cara yang baik.
Momen 40 hari ini pun menjadi refleksi mendalam bagi keluarga dan para pelayat. Bukan sekadar mengenang, tetapi juga melanjutkan nilai-nilai baik yang telah diwariskan oleh almarhum.
Dengan demikian, “Vidi Tetap Hidup” bukanlah penolakan atas kematian, melainkan bentuk penghormatan yang lebih dalam—bahwa seseorang tetap hidup melalui doa, amal, dan manfaat yang terus dirasakan oleh banyak orang.