Sidang Ammar Zoni akan kembali digelar pada Kamis, 23 April 2026, dengan agenda pembacaan putusan. Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

Ketegangan Taiwan–China Kian Memanas, Risiko Konflik Global Membesar

Sabtu, 18/04/2026
 Ketegangan Taiwan–China Kian Memanas, Risiko Konflik Global Membesar
Ketegangan geopolitik di Selat Taiwan kembali menjadi sorotan dunia

Ketegangan geopolitik di Selat Taiwan kembali menjadi sorotan dunia. Pulau yang hanya berjarak sekitar 160 kilometer dari daratan China itu kini berada di pusat rivalitas kekuatan besar, dengan potensi konflik yang disebut-sebut dapat melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya secara luas.

Sengketa ini berakar dari klaim China terhadap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meskipun pulau tersebut telah lama berfungsi sebagai pemerintahan mandiri dengan sistem demokrasi. Sejak berakhirnya perang saudara China pada 1949, status Taiwan tetap menjadi isu sensitif yang belum terselesaikan.

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, China memperkuat kontrol politik domestik sekaligus membangun kekuatan militer yang semakin modern. Beijing secara konsisten menegaskan ambisinya untuk “menyatukan kembali” Taiwan, baik melalui tekanan diplomatik maupun opsi militer jika diperlukan.

Di sisi lain, Taiwan berkembang menjadi salah satu demokrasi paling maju di Asia. Dengan populasi sekitar 23 juta jiwa, pulau ini juga menjadi pusat penting industri teknologi global. Namun, kedekatan ekonomi dengan China membuat posisinya tetap rentan.

Amerika Serikat memainkan peran krusial dalam dinamika ini. Washington terus memasok senjata pertahanan ke Taiwan, tetapi tetap mempertahankan kebijakan “ambigu strategis” terkait sejauh mana akan terlibat jika terjadi invasi. Meski demikian, sejumlah pejabat AS memperingatkan bahwa China bisa siap melakukan aksi militer dalam beberapa tahun ke depan.

Di dalam negeri, politik Taiwan turut dipengaruhi oleh isu hubungan dengan China. Partai berkuasa, Democratic Progressive Party (DPP), menegaskan pentingnya kedaulatan Taiwan, sementara oposisi seperti Kuomintang (KMT) cenderung membuka peluang hubungan lebih dekat dengan Beijing. Meski berbeda pandangan, mayoritas masyarakat Taiwan memilih mempertahankan status quo—hidup bebas dan demokratis tanpa deklarasi kemerdekaan formal maupun penyatuan dengan China.

Pengalaman Hong Kong menjadi peringatan serius bagi Taiwan. Setelah diserahkan kembali ke China pada 1997 dengan janji otonomi, wilayah itu kini menghadapi pembatasan kebebasan sipil yang ketat. Banyak warga Taiwan melihat perkembangan tersebut sebagai bukti bahwa skema “satu negara, dua sistem” tidak lagi dapat dipercaya.

Selain tekanan militer, China juga dituding menggunakan strategi non-konvensional, seperti perang informasi, tekanan ekonomi, dan operasi intelijen untuk melemahkan Taiwan dari dalam. Serangan disinformasi yang masif disebut bertujuan memecah belah masyarakat dan menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Meski ancaman meningkat, Taiwan terus memperkuat pertahanan. Reformasi militer, peningkatan anggaran, serta adopsi strategi perang asimetris menjadi fokus utama. Pelajaran dari perang di Ukraina juga mendorong kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan sipil.

Para analis menilai konflik terbuka di Taiwan akan jauh lebih kompleks dibanding perang regional lainnya. Selain faktor geografis berupa Selat Taiwan yang sulit ditembus, potensi keterlibatan negara-negara besar menjadikan konflik ini berisiko memicu krisis global.

Hingga kini, peluang penyelesaian damai masih ada, namun semakin sempit. Banyak pihak menilai stabilitas hanya dapat dijaga melalui keseimbangan kekuatan, diplomasi yang hati-hati, serta upaya meningkatkan biaya politik dan militer bagi pihak yang mempertimbangkan agresi.

Dengan rivalitas Amerika Serikat dan China yang terus menguat, masa depan Taiwan tetap berada di persimpangan sejarah—antara perdamaian yang rapuh dan kemungkinan konflik yang dapat mengguncang dunia.

Tags

Terkini