Citraselebriti – Film Tanah Runtuh hadir sebagai karya drama berlatar peristiwa konflik sosial di Poso yang tidak hanya mengangkat sisi sejarah, tetapi juga menyampaikan pesan kemanusiaan yang mendalam. Produser film tersebut menegaskan bahwa karya ini dibuat sebagai upaya menghadirkan kembali peristiwa masa lalu agar dapat dipahami oleh masyarakat Indonesia saat ini.
Produser sekaligus pegiat media sosial Denny Siregar mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam menggarap film berlatar sejarah adalah bagaimana menghubungkan peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu dengan kondisi masyarakat masa kini.
Menurutnya, film ini tidak sekadar merekam sejarah, tetapi berusaha menanamkan pelajaran berharga kepada penonton. Ia berharap masyarakat yang menyaksikan Tanah Runtuh dapat membawa pulang pesan moral yang tersimpan dalam cerita tersebut.
“Harapannya, ketika keluar dari bioskop, ada sesuatu yang tertanam di hati maupun pikiran penonton. Bahwa bangsa ini pernah melewati situasi yang jauh lebih berat dan semoga peristiwa serupa tidak pernah terulang kembali,” ujarnya dalam jumpa pers di Epicentrum, Jakarta, Kamis (18/6),
Denny menilai masyarakat Indonesia kerap melupakan pelajaran dari berbagai konflik yang pernah terjadi. Karena itu, menurutnya, penting menghadirkan cerita tentang kebaikan dan kemanusiaan di tengah kekacauan yang pernah melanda bangsa.
Ia juga menyoroti kekayaan sejarah Indonesia yang dinilai masih sangat jarang diangkat ke layar lebar. Mulai dari konflik di Ambon, Poso, Sampit hingga berbagai peristiwa penting dalam perjalanan bangsa, semuanya menyimpan potensi cerita yang kuat.
Meski demikian, ia mengakui tidak banyak rumah produksi yang berani mengambil tema-tema sejarah dan konflik sosial karena tingkat kesulitannya tinggi serta membutuhkan biaya produksi yang besar. Dibandingkan genre komedi atau horor yang lebih aman secara bisnis, film seperti Tanah Runtuhmemiliki risiko yang jauh lebih besar.
“Namun harus ada yang memulai. Harus ada yang berani bergerak untuk menghadirkan cerita-cerita seperti ini,” katanya.
Bersama sutradara Rudi Soedjarwo, Denny berupaya mencari pendekatan yang berbeda dalam mengangkat konflik Poso yang melibatkan ketegangan antara komunitas Islam dan Kristen. Keduanya sepakat untuk tidak menjadikan konflik agama sebagai fokus utama, melainkan menghadirkannya melalui sudut pandang dua anak yang kehilangan ibu mereka akibat kerusuhan.
Pendekatan tersebut dipilih agar penonton dapat melihat sisi kemanusiaan tanpa terjebak dalam kebencian atau perpecahan. Salah satu karakter penting dalam film ini adalah sosok anak dengan Down Syndrome yang digambarkan memiliki keistimewaan tersendiri.
Menurut Denny, karakter tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dengan Down Syndrome memiliki keberanian dan kepolosan yang luar biasa. Kehadirannya menjadi simbol harapan sekaligus penyelamat bagi tokoh utama yang dihantui ketakutan akibat konflik yang terjadi di sekitarnya.
Karakter yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman menjadi figur penting yang membantu tokoh Kai melewati trauma dan rasa takutnya. Hubungan keduanya menjadi salah satu elemen emosional yang memperkuat pesan kemanusiaan dalam film.
Denny juga memberikan apresiasi kepada Vino G. Bastian yang untuk pertama kalinya bekerja sama dengannya dalam proyek ini. Ia menilai sang aktor menunjukkan profesionalisme tinggi selama proses produksi.
Melalui kisah yang menyentuh dan pendekatan yang humanis, Tanah Runtuh diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengingat bahwa di tengah konflik dan perbedaan, selalu ada ruang untuk empati, persaudaraan, dan harapan.
Artikel Terkait
JeA Hadirkan Nuansa Romantis dan Penuh Semangat dalam Single Terbaru “Bright Romance”
Vino G. Bastian Sebut Film Tanah Runtuh Jadi Pengingat Penting tentang Empati dan Toleransi
Rudi Soedjarwo Ungkap Makna Mendalam di Balik Film Tanah Runtuh
Film “Tanah Runtuh” Angkat Luka Sejarah Poso Lewat Sudut Pandang Anak-anak