Citraselebriti – Aktor Teuku Rifnu Wikana membagikan pengalamannya selama terlibat dalam film Saat Aku Bersuara. Dalam film garapan sutradara Sono tersebut, Rifnu mengaku mendapat tantangan yang tidak hanya datang dari naskah, tetapi juga dari gaya penyutradaraan yang unik dan penuh eksplorasi.
Rifnu mengungkapkan kenyamanan bekerja bersama lawan mainnya, Marshanda, yang akrab disapa Caca. Menurutnya, chemistry yang terbangun membuat proses akting berjalan lebih alami.
“Lebih enaknya kalau ketemu lawan main yang kita enggak usah banyak ngomong. Cukup saling lihat saja sudah tahu apa yang mau dilakukan. Sama Caca itu sudah nyaman banget, jadi kami enggak pusing lagi,” ujar Rifnu Saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta, Minggu (14/6).
Meski demikian, ia berseloroh bahwa sosok yang justru membuatnya harus bekerja lebih keras adalah sang sutradara. Rifnu menyebut Sono kerap menghadirkan konsep pengambilan gambar yang tidak biasa.
“Yang bikin pusing itu cuma Pak Sono. Shot-nya macam-macam, ada kamera muter dalam satu adegan, tiba-tiba saya harus bergerak ke sana ke sini. Bahkan ada adegan yang dibuat one shot. Baru kali ini saya menemukan shot yang aneh-aneh seperti itu,” katanya.
Menurut Rifnu, tantangan teknis tersebut justru menjadi salah satu hal yang membuat proses produksi terasa menarik. Ia menilai hasil akhirnya sangat memuaskan dan sebanding dengan usaha yang dilakukan seluruh tim produksi.
Dalam film Saatnya Aku Bersuara, Rifnu memerankan sosok seorang ayah yang harus menghadapi persoalan berat yang dialami putrinya, Nadya. Ia menilai karakter tersebut sangat dekat dengan naluri manusia pada umumnya.
“Siapapun ayahnya, ketika menghadapi persoalan yang dialami Nadya pasti akan melakukan hal yang serupa. Itu naluri manusia. Saat menghadapi masalah besar, emosi pasti muncul dan membutuhkan peredam, baik dari diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya,” jelasnya.
Rifnu juga menyoroti makna “suara” yang menjadi tema utama film ini. Menurutnya, suara tidak selalu hadir dalam bentuk ucapan, tetapi juga bisa diwujudkan melalui tindakan maupun sikap seseorang dalam menghadapi persoalan hidup.
Menariknya, aktor yang selama ini dikenal lewat berbagai peran antagonis, psikopat, hingga pembunuh itu mengaku senang mendapat kesempatan memerankan karakter ayah yang baik hati.
“Selama beberapa tahun terakhir karakter yang datang ke saya biasanya penjahat, pembunuh, atau psikopat. Saya enggak tahu kenapa, tapi bersama Pak Sono saya justru dipercaya memerankan sosok bapak yang baik,” ujarnya.
Rifnu menambahkan bahwa meski karakter berlatar belakang militer pernah ia mainkan sebelumnya, tantangan terbesar dalam film ini bukan terletak pada profesinya, melainkan pada perjalanan emosional yang harus dilalui tokoh tersebut.
“Secara background karakter sebenarnya sudah pernah saya mainkan. Jadi enggak ada kesulitan berarti. Yang paling penting adalah memahami situasi yang membawa karakter itu ke arah mana,” pungkasnya.
Film Saat Aku Bersuara mengangkat kisah perjuangan seorang perempuan muda bernama Nadya dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, sekaligus menyuarakan keberanian untuk menyampaikan kebenaran dan memperjuangkan haknya.
Artikel Terkait
YUJEONG Tampilkan Kepercayaan Diri dan Karisma Unik Lewat Lagu “Nonsense”
April Art Tunjukkan Sikap Pemberontak Lewat Single Enerjik “Not Sorry”
Teuku Rifnu Wikana Ungkap Tantangan Syuting Film Saat Aku Bersuara, Puji Chemistry dengan Marshanda
Asila Maisa Mantap Fokus di Dunia Musik, Ramzi Bangga Putrinya Makin Mandiri