Jakarta- Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, kembali angkat bicara menanggapi pernyataan yang disampaikan pihak Sarwendah Tan. Dalam konferensi pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (1/6), Minola berharap polemik antara kedua belah pihak tidak terus berlanjut melalui media dan dapat diselesaikan secara langsung oleh para kuasa hukum.
Menurut Minola, rangkaian konferensi pers yang saling berbalas tanggapan sudah tidak produktif dan berpotensi memperpanjang persoalan.
“Setelah hari ini kami menggunakan hak jawab atas konferensi pers yang dilakukan oleh kuasa hukum Sarwendah, kami berharap ada penyelesaian yang tidak lagi menggunakan area publik, tetapi langsung bertemu dengan kami sebagai kuasa hukum Ruben untuk mencari titik temu,” ujarnya.
Terima Permintaan Maaf Kuasa Hukum Sarwendah
Minola juga menanggapi permintaan maaf yang sebelumnya disampaikan kuasa hukum Sarwendah terkait pernyataan yang sempat ia nilai berpotensi melanggar kode etik profesi advokat.
Ia menegaskan tidak pernah bermaksud mengancam ataupun memberikan tekanan kepada rekan seprofesinya tersebut. Menurutnya, kritik yang disampaikan semata-mata berkaitan dengan etika profesi ketika seorang advokat mengomentari pekerjaan advokat lain.
“Saya menerima permintaan maafnya. Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada yang luput dari kesalahan. Tetapi saya juga merasa tidak ada satu kalimat pun yang bermuatan ancaman atau tekanan,” kata Minola.
Bantah Menuduh Sarwendah Menghalangi Pertemuan Anak
Dalam kesempatan itu, Minola membantah pihaknya pernah menuduh Sarwendah Tan secara aktif menghalang-halangi pertemuan Ruben dengan anak-anaknya.
Menurut dia, yang disampaikan selama ini adalah fakta bahwa kliennya mengalami kesulitan untuk bertemu dengan anak-anaknya, bukan tuduhan bahwa Sarwendah sengaja menghambat.
“Kami tidak pernah menyatakan Sarwendah menghalang-halangi. Kami hanya menyampaikan bahwa Ruben mengalami kesulitan untuk bertemu dengan anak-anaknya,” jelasnya.
Minola mengacu pada kesepakatan yang tertuang dalam Akta Nomor 39 yang mengatur anak-anak dapat bertemu dan berkumpul dengan ayahnya selama dua hingga tiga hari dalam satu minggu.
Ia mempertanyakan bagaimana mekanisme pelaksanaan kesepakatan tersebut apabila anak-anak berada dalam pengasuhan ibunya. Menurutnya, komunikasi yang dilakukan Ruben selama ini justru menunjukkan adanya kesulitan dalam mengatur pertemuan tersebut.
“Kami memiliki bukti percakapan yang menunjukkan bagaimana rumitnya komunikasi terkait pertemuan dengan anak. Pembicaraan mengenai anak sering kali bergeser ke persoalan lain,” ujarnya.
Soroti Polemik Nafkah Anak
Minola juga menilai persoalan nafkah anak seharusnya tidak lagi menjadi perdebatan di ruang publik. Ia menegaskan bahwa anak merupakan tanggung jawab kedua orang tua, bukan hanya ayah maupun ibu semata.
Menurutnya, selama bertahun-tahun Ruben telah memberikan dukungan finansial yang besar kepada keluarga. Karena itu, ia menilai tidak tepat apabila beberapa bulan ketika biaya pemeliharaan dan pendidikan anak ditanggung oleh ibunya kemudian dijadikan persoalan besar.
“Kalau seseorang menafkahi anak selama beberapa bulan lalu dianggap pahlawan, bagaimana dengan seorang ayah yang menafkahi anaknya selama bertahun-tahun?” kata Minola.
Ungkap Persoalan Aset dan KPR
Selain soal anak, Minola turut menyinggung persoalan pembagian harta bersama pasca perceraian. Ia mengungkapkan bahwa selama ini Ruben tetap membayar cicilan KPR sebuah properti yang menurutnya mencapai sekitar Rp37 juta per bulan.
Menurut Minola, pembagian aset seharusnya dilakukan secara adil dengan terlebih dahulu mengelompokkan aset yang sudah bebas dari kewajiban dan aset yang masih memiliki beban utang.
Ia menjelaskan, aset yang tidak memiliki kewajiban dapat dibagi lebih dahulu secara proporsional, sementara aset yang masih dibebani cicilan atau kewajiban lain perlu diselesaikan melalui kesepakatan bersama.
“Kalau memang aset tersebut masih dibebani kewajiban, seharusnya sejak awal dibicarakan secara jelas bagaimana penyelesaiannya. Jangan kemudian persoalan itu diputarbalikkan,” tegasnya.
Minta Harkat Ruben Tidak Dijatuhkan
Di akhir pernyataannya, Minola berharap polemik ini tidak berkembang menjadi upaya menjatuhkan martabat Ruben sebagai seorang ayah.
Ia menilai berbagai sindiran dan komentar yang beredar di publik maupun media sosial justru memperkeruh suasana dan membuat persoalan pribadi semakin melebar.
“Klien kami adalah ayah dari anak-anaknya. Jangan sampai harkat dan martabatnya sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang ayah dijatuhkan di hadapan publik,” pungkas Minola.
Minola berharap seluruh persoalan yang masih tersisa antara pihak Ruben dan Sarwendah dapat diselesaikan melalui komunikasi yang lebih konstruktif tanpa harus kembali menjadi konsumsi publik.
Artikel Terkait
Minola Sebayang Bantah Tudingan, Tegaskan Ruben Onsu Hanya Mengalami Kesulitan Bertemu Anak
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Kliennya Mengeluh Soal Nafkah, Tegaskan Hanya Minta Kesepakatan Dijalankan
Remix K-Pop Baru Hadirkan Perpaduan Enerjik dan Nuansa Emosional
IZNA Tampilkan Emosi Mendalam Lewat Cover “I LOVE YOU” di KCON JAPAN 2026