Sekretaris Jenderal United Nations, António Guterres, memperingatkan dunia tengah menghadapi ancaman serius terhadap perdamaian global dan masa depan tatanan internasional.
Dalam pidatonya di hadapan Dewan Keamanan PBB yang dipimpin Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, Guterres menyebut Piagam PBB sebagai “panduan bertahan hidup umat manusia” yang kini berada di bawah tekanan besar akibat konflik, perlombaan senjata, hingga pelanggaran hukum internasional.
“Prinsip-prinsip Piagam PBB sedang mengalami tekanan mendalam,” ujar Guterres.
Ia menyoroti tujuh ancaman utama yang menurutnya kini mengancam stabilitas dunia. Salah satu yang paling disorot adalah melemahnya penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk pelanggaran terhadap kedaulatan negara dan penggunaan kekuatan militer.
Menurut Guterres, dunia juga menghadapi perpecahan geopolitik yang semakin tajam sehingga membuat Dewan Keamanan PBB sulit mencapai kesepakatan penting.
“Ketika Dewan Keamanan terpecah, dampaknya dirasakan jauh melampaui ruang sidang ini,” katanya.
Guterres menegaskan jumlah konflik global saat ini menjadi yang tertinggi sejak berdirinya PBB. Ia menyoroti situasi di Ukraine, Gaza Strip, Lebanon, dan Sudan yang terus memburuk.
Ia juga mengaku sangat prihatin terhadap meningkatnya serangan antara Rusia dan Ukraina, termasuk penggunaan drone yang menyasar warga sipil dan infrastruktur sipil.
“Kita harus menghindari eskalasi konflik yang telah menyebabkan penderitaan besar bagi masyarakat sipil,” tegasnya.
Selain konflik bersenjata, Guterres memperingatkan perlombaan senjata global kini semakin berbahaya. Pengeluaran militer dunia disebut mencapai rekor tertinggi, sementara teknologi baru seperti kecerdasan buatan dan senjata otonom berkembang lebih cepat dibanding kemampuan dunia mengaturnya.
Ia juga menyoroti kemunduran hak asasi manusia di berbagai negara, meningkatnya ketimpangan ekonomi, krisis utang negara berkembang, hingga ancaman perubahan iklim yang disebutnya sebagai “pengganda ancaman” bagi keamanan dunia.
Dalam pidatonya, Guterres mendesak reformasi besar terhadap sistem global, termasuk reformasi Dewan Keamanan PBB agar lebih mencerminkan realitas geopolitik saat ini.
Ia menilai tidak adanya perwakilan permanen dari Afrika di Dewan Keamanan merupakan “ketidakadilan historis” yang melemahkan kredibilitas PBB.
“Dewan Keamanan yang tidak mencerminkan dunia saat ini tidak akan mampu menjalankan tanggung jawabnya secara penuh,” ujarnya.
Guterres juga menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur damai seperti negosiasi, mediasi, arbitrase, dan diplomasi internasional.
Di akhir pidato, ia menegaskan bahwa reformasi kelembagaan saja tidak cukup tanpa kemauan politik dari seluruh negara anggota.
“Perdamaian dan keamanan internasional hanya bisa dijaga jika negara-negara mematuhi hukum internasional dan menyelesaikan sengketa secara damai,” kata Guterres.
Artikel Terkait
Lancia Gamma Resmi Diperkenalkan, Crossover Fastback Futuristis dengan Tenaga Hingga 375 HP
PBB Peringatkan Dunia di Ambang Krisis Global, Konflik Ukraina hingga Gaza Jadi Sorotan
STARGLOW Tampil Lebih Gelap dan Sinematik di MV ‘Good Boys Anthem
JD Vance Klaim Selamatkan Miliaran Dolar AS dari Penipuan, Bentuk Perang Nasional Lawan Fraud