Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap dampak perang berkepanjangan di Ukraina, khususnya terhadap anak-anak dan fasilitas pendidikan. Dalam pidato di forum internasional, perwakilan PBB mengungkap laporan mengenai serangan semalam di wilayah Luhansk, Ukraina, yang saat ini berada di bawah pendudukan sementara Federasi Rusia.
Serangan tersebut dilaporkan menghantam sebuah sekolah kejuruan dan asrama siswa di kota Starobilsk. Insiden itu disebut menewaskan dan melukai sejumlah warga sipil, termasuk anak-anak. Beberapa orang bahkan diduga masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
PBB menyatakan belum dapat memverifikasi detail kejadian karena tidak memiliki akses langsung ke wilayah tersebut. Meski demikian, organisasi dunia itu menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Dalam pernyataannya, pejabat PBB mengecam seluruh serangan terhadap sekolah, rumah sakit, serta fasilitas kemanusiaan yang seharusnya dilindungi hukum internasional. Ia menekankan bahwa anak-anak tidak boleh menjadi korban konflik bersenjata.
“Rumah mereka, ruang kelas mereka, dan masa depan mereka tidak boleh diperlakukan sebagai kerusakan sampingan perang,” tegasnya di hadapan forum.
PBB juga menyoroti bahwa lebih dari empat tahun sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina dimulai, serangan besar masih terus terjadi hampir setiap hari. Selain korban di Ukraina, serangan yang dilaporkan terjadi di wilayah Rusia juga disebut menyebabkan korban sipil dan kerusakan bangunan tempat tinggal.
Menurut data terverifikasi PBB, sepanjang tahun 2025 terdapat lebih dari 440 serangan terhadap sekolah di Ukraina. Angka tersebut menjadikan konflik Ukraina sebagai salah satu situasi dengan pelanggaran berat terhadap hak anak paling serius di dunia.
Dalam kunjungannya baru-baru ini ke Ukraina dan Rusia, pejabat PBB tersebut mengaku menyaksikan langsung dampak perang terhadap dunia pendidikan. Di kota Kharkiv, Ukraina, ia mengunjungi sekolah bawah tanah di stasiun metro tempat anak-anak tetap belajar di tengah ancaman sirene serangan udara yang terus berbunyi.
Sementara di Belgorod, Rusia, ia juga bertemu siswa dan melihat bagaimana konflik memengaruhi kehidupan anak-anak di wilayah perbatasan.
PBB menegaskan bahwa sekolah harus tetap menjadi tempat aman bagi anak-anak untuk belajar, tumbuh, dan membangun masa depan. Pendidikan disebut bukan sekadar hak dasar, tetapi juga “tali penyelamat” bagi generasi muda di tengah perang.
Menutup pidatonya, PBB kembali menyerukan gencatan senjata penuh, segera, dan tanpa syarat sebagai langkah menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Ukraina sesuai Piagam PBB dan hukum internasional.
Artikel Terkait
PBB Soroti Serangan Sekolah di Starobilsk, Desak Perlindungan Anak dan Gencatan Senjata di Ukraina
King Nasar Bongkar Kerinduannya pada Panggung DA7 Indosiar, Hafal Nama Kontestan hingga Bikin Studio Pecah Tawa
“Pink” Meledak di TikTok! Lagu Viral Kreator Korea Bawa Nuansa Dark Pop Ala Billie Eilish ke Era Musik Internet
“Pilih Kambing untuk Diri Sendiri”, Irfan Sebaztian Ungkap Makna Idul Adha dan Tradisi Kurban Bareng Keluarga