• Selasa, 26/05/2026

United Nations: Kekerasan Bersenjata di Haiti Hancurkan Masa Depan Anak-Anak

- Sabtu, 23/05/2026
 United Nations: Kekerasan Bersenjata di Haiti Hancurkan Masa Depan Anak-Anak
Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal United Nations untuk Anak dan Konflik Bersenjata, Vanessa Frazier

Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal United Nations untuk Anak dan Konflik Bersenjata, Vanessa Frazier, mengungkap kondisi memilukan yang dialami anak-anak di Haiti akibat meningkatnya kekerasan bersenjata dan dominasi kelompok geng kriminal di negara tersebut.

Dalam konferensi pers di markas besar PBB usai kunjungan resminya ke Haiti, Vanessa Frazier mengatakan dirinya menyaksikan langsung penderitaan mendalam yang dialami anak-anak yang hidup di tengah konflik dan ketidakamanan ekstrem.

Menurutnya, banyak anak di Haiti tumbuh dalam ketakutan, mengalami intimidasi, kekerasan seksual, pemisahan keluarga, pengungsian, hingga trauma berkepanjangan. Situasi tersebut diperparah dengan semakin besarnya pengaruh geng bersenjata yang memanfaatkan kerentanan anak-anak untuk direkrut menjadi anggota kelompok kriminal.

Frazier menyebut pada tahun 2025 saja, perekrutan dan penggunaan anak oleh geng meningkat hampir tiga kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan diperkirakan lebih dari separuh anggota geng di Haiti merupakan anak-anak.

“Tidak ada anak di mana pun yang seharusnya mengalami tingkat kekerasan seperti ini,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Selain perekrutan anak, kasus pembunuhan, penculikan, dan kekerasan seksual terhadap anak juga dilaporkan meningkat drastis. Kekerasan seksual disebut sengaja digunakan sebagai alat teror untuk menakut-nakuti masyarakat.

Kondisi pendidikan di Haiti turut menjadi sorotan serius. PBB menerima laporan sekitar 18 ribu sekolah hancur, rusak, atau tidak lagi berfungsi akibat aksi geng bersenjata. Banyak anak akhirnya kehilangan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan perlindungan dasar.

Dalam kunjungannya, Vanessa Frazier juga mendatangi fasilitas penahanan anak di Port-au-Prince yang menampung sekitar 80 anak dalam kondisi memprihatinkan tanpa proses hukum yang jelas. Beberapa anak bahkan disebut telah ditahan selama bertahun-tahun tanpa pernah bertemu hakim.

Ia menegaskan anak-anak yang ditemukan dalam operasi keamanan harus diperlakukan sebagai korban, bukan pelaku kriminal. PBB mendesak agar anak-anak tersebut segera diserahkan kepada layanan perlindungan anak untuk mendapatkan rehabilitasi dan reintegrasi sosial.

Frazier turut mengungkap kisah memilukan dari sejumlah anak korban kekerasan. Salah satunya seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun yang memilih tidak pulang ke rumah karena pernah diserang ibunya menggunakan parang. Ia kemudian bergabung dengan geng sebelum akhirnya berhasil dipisahkan dari kelompok tersebut.

Ada pula kisah seorang gadis 15 tahun yang mengalami kekerasan di rumah, berpindah dari satu geng ke geng lain, menjadi korban pelecehan seksual berulang kali, hingga hidup sebagai tunawisma di area pemakaman sebelum akhirnya diselamatkan ke pusat rehabilitasi.

Meski menghadapi situasi yang sangat berat, Vanessa Frazier mengatakan anak-anak Haiti tetap menunjukkan ketangguhan luar biasa. Sebagian besar dari mereka hanya memiliki satu harapan sederhana: kembali bersekolah, bermain, dan hidup normal sebagai anak-anak.

PBB menegaskan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan pemerintah Haiti, UNICEF, serta organisasi masyarakat sipil dalam memperkuat perlindungan anak dan menciptakan peluang masa depan yang lebih baik bagi generasi muda Haiti.

“Anak-anak Haiti bukan masa depan semata. Mereka adalah masa kini, dan mereka tidak bisa menunggu,” tutup Vanessa Frazier.

Tags

Artikel Terkait

Terkini