Trio musik eksperimental asal Amerika Serikat, Son Lux, kembali menghadirkan karya terbaru lewat single berjudul “Endlessly” sekaligus mengumumkan album ke-9 mereka bertajuk Out Into yang dijadwalkan rilis pada 18 September melalui label This Is Meru/City Slang. Lagu terbaru tersebut menjadi pembuka menuju album yang disebut sebagai karya Son Lux paling ritmis, emosional, dan mendesak secara lirik sepanjang karier mereka.
Grup yang digawangi Ryan Lott, Rafiq Bhatia, dan Ian Chang itu selama ini dikenal lewat karakter musik sinematik dan eksperimental. Namun dalam album Out Into, mereka mencoba pendekatan berbeda dengan mempertahankan voice note awal sebuah lagu sebagai bentuk paling murni dari kreativitas. Dari proses tersebut lahir komposisi-komposisi dinamis yang dipenuhi improvisasi kolektif dan emosi yang terasa sangat personal.
Endlessly hadir dengan dukungan marching band ternama dunia The Bluecoats. Lagu ini ditulis sebagai perayaan terhadap identitas dan perjalanan menemukan diri sendiri. Pada bagian chorus, “Endlessly” menghadirkan pesan bahwa setiap orang bebas menjadi versi diri yang mereka inginkan.
Ryan Lott menjelaskan bahwa tema besar album ini berbicara tentang kehilangan dan penemuan jati diri dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan personal, pekerjaan, hingga ambisi. Menurutnya, setiap manusia terus berubah seiring proses memahami dirinya sendiri.
“Setiap momen adalah sebuah jalan keluar dan sebuah pintu masuk secara bersamaan,” ujar Lott mengenai filosofi di balik album Out Into.
Bagi Rafiq Bhatia, lirik-lirik yang ditulis Lott terasa sangat dekat dengan proses kreatif Son Lux sendiri. Ia menilai musik dalam album ini menggambarkan hubungan antar manusia di tengah kehidupan modern yang penuh aturan tak tertulis dan tekanan emosional.
Secara musikal, “Endlessly” juga memperlihatkan kecintaan Son Lux terhadap hip-hop era boom-bap. Ian Chang menyebut mereka banyak terinspirasi dari produser legendaris seperti J Dilla dan Madlibyang dikenal lewat beat organik dan sentuhan manusiawi dalam musiknya.
Chang menegaskan bahwa di tengah maraknya penggunaan AI di industri musik modern, Son Lux justru ingin menghadirkan karya yang tetap terasa “dibuat oleh tangan manusia”.
Pendekatan baru tersebut diyakini akan mengejutkan para penggemar lama Son Lux karena berbeda dari metode penciptaan musik mereka sebelumnya. Grup ini sendiri telah mendapat pengakuan internasional lewat soundtrack film Everything Everywhere All at Once yang membawa mereka meraih dua nominasi Oscar dan dua nominasi BAFTA untuk kategori Best Original Song serta Best Original Score.
Dalam proyek soundtrack tersebut, Son Lux juga berkolaborasi dengan sejumlah nama besar seperti David Byrne, Mitski, dan André 3000.
Tak hanya itu, lagu “Easy” milik Son Lux pernah di-sample oleh Halsey dalam lagu “Hold Me Down”, juga digunakan oleh G-Eazy serta Fall Out Boy. Mereka bahkan sempat merilis ulang “Easy” bersama Lorde pada 2020.
Selain dunia musik populer, karya Son Lux juga telah dipakai oleh The Royal Ballet, Kronos Quartet, hingga BBC Concert Orchestra.
Melalui album Out Into, Son Lux mencoba menempatkan diri di antara dua dunia: megah namun intim, spontan tetapi detail, eksperimental sekaligus pop. Karakter tersebut terasa kuat dalam single “Endlessly” yang kini menjadi sorotan para pecinta musik alternatif dan eksperimental dunia.
Mulai Juli mendatang, Son Lux juga dijadwalkan menggelar tur global sepanjang 2026 hingga 2027, termasuk sejumlah kota di kawasan Asia.
Artikel Terkait
Chevrolet Bel Air 2027 Bangkit dengan Aura Futuristik, Mobil Legendaris Amerika Kini Berubah Jadi Monster Hybrid Mewah
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Puji Pasukan Penjaga Perbatasan Timur
PBB Soroti Krisis Global: Konflik Timur Tengah, Gaza, Sudan hingga Ebola Jadi Perhatian Utama
Donald Trump Tegaskan “America First” Saat Pidato Wisuda Coast Guard Academy 2026