Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memperingatkan dunia tentang memburuknya situasi kemanusiaan global di tengah konflik bersenjata, krisis pangan, wabah penyakit, dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Dalam konferensi pers di markas PBB, Sekretaris Jenderal António Guterresmenegaskan dunia saat ini sedang “diguncang konflik, kekacauan iklim, dan ketimpangan.”
Usai memimpin pertemuan dua tahunan Dewan Kepala Eksekutif PBB di Jepang, Guterres menyebut para pemimpin badan-badan PBB berkomitmen membangun organisasi yang lebih kuat dan efektif meski menghadapi tantangan besar dengan sumber daya yang semakin terbatas.
Dalam kunjungannya ke Tokyo, Guterres juga bertemu Kaisar Jepang dan Menteri Luar Negeri Jepang untuk memperkuat kemitraan Jepang-PBB. Ia menekankan bahwa solidaritas internasional menjadi kunci menghadapi berbagai krisis dunia, terutama konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan bahan baku global.
PBB Desak Kebebasan Navigasi di Selat Hormuz
PBB menaruh perhatian serius pada situasi di sekitar Selat Hormuz yang memanas akibat konflik regional. Guterres menegaskan pentingnya memulihkan kebebasan navigasi penuh di kawasan tersebut serta menghentikan pelanggaran gencatan senjata demi membuka jalan bagi solusi politik.
Sekretaris Negara Amerika Serikat Marco Rubio diketahui menghubungi Guterres untuk membahas situasi tersebut, termasuk kebutuhan kemanusiaan global dan wabah Ebola di Afrika.
Sipil Tewas Setiap 14 Menit dalam Konflik Dunia
PBB mengungkap data mengerikan terkait perlindungan warga sipil. Direktur Divisi Respons Krisis OCHA, Edem Wosornu, menyebut satu warga sipil terbunuh setiap 14 menit sepanjang 2025 di 20 konflik bersenjata yang dipantau PBB.
Selain itu, lebih dari 1.350 serangan terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan tercatat di 18 konflik berbeda. Sebanyak 147 juta orang mengalami kerawanan pangan akut akibat perang, sementara lebih dari 9.300 kasus kekerasan seksual dilaporkan, mayoritas menimpa perempuan dan anak perempuan.
PBB juga menyoroti lebih dari 1.000 pekerja kemanusiaan tewas dalam tiga tahun terakhir akibat konflik di berbagai wilayah dunia.
Lebanon Memanas, Ribuan Korban Berjatuhan
Pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan melaporkan meningkatnya aktivitas militer Israel dan Hezbollah. Serangan udara Israel disebut menewaskan sedikitnya 19 orang, termasuk tiga anak-anak.
Sejak Maret lalu, lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas dan 9.301 lainnya terluka di Lebanon. Sekitar satu juta warga atau seperlima populasi negara itu kini mengungsi akibat konflik berkepanjangan.
Dana Kependudukan PBB (UNFPA) menyebut sekitar 13 ribu perempuan hamil ikut mengungsi, dengan 1.500 di antaranya diperkirakan melahirkan dalam waktu dekat dan membutuhkan layanan kesehatan darurat.
Gaza Masih Digempur
Di Gaza, PBB menyatakan serangan Israel terus menghantam kawasan pemukiman dan tempat pengungsian sementara. Serangan udara di kamp Jabalia merusak puluhan tenda keluarga pengungsi.
PBB juga mengeluhkan hambatan distribusi bantuan kemanusiaan akibat pembatasan pergerakan oleh militer Israel. Meski begitu, lembaga kemanusiaan terus mendistribusikan bantuan, termasuk 130 ribu paket roti setiap hari untuk warga Gaza.
PBB memperkirakan sekitar 900 ribu warga Gaza sangat membutuhkan tempat tinggal layak dan bantuan perlindungan.
Ebola Meluas di Afrika Tengah
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda terus meluas. Hampir 600 kasus suspek dan 139 kematian telah tercatat.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan penyebaran penyakit semakin sulit dikendalikan karena tingginya mobilitas penduduk di wilayah konflik.
WHO telah menggelontorkan tambahan dana darurat sebesar 3,4 juta dolar AS untuk penanganan wabah tersebut.
Sudan dan Ukraina Juga Memburuk
Di Sudan, PBB mengecam serangan drone yang menewaskan sedikitnya 28 warga sipil di pasar Kota Gubaish, Sudan Barat. Sementara itu di Ukraina, gudang bantuan milik UNHCR di Dnipro hancur akibat serangan rudal balistik yang menewaskan dua pekerja kemanusiaan.
PBB menilai serangan terhadap fasilitas kemanusiaan merupakan pelanggaran serius hukum internasional dan memperparah penderitaan warga sipil.
Haiti Dilanda Kekerasan Geng
PBB juga melaporkan sedikitnya 390 orang tewas akibat perang antar geng di Haiti sejak Maret hingga pertengahan Mei. Kekerasan menyebabkan pembakaran rumah, fasilitas umum, serta meningkatnya kekerasan seksual terhadap warga sipil.
PBB memperingatkan situasi kemanusiaan di Haiti terus memburuk dan membutuhkan perhatian internasional segera.
Artikel Terkait
Drama dan Kejutan di Strasbourg Open: Emma Navarro Raih Kemenangan ke-100, Unggulan Berguguran
Oppo Find X9S Resmi Tampil, Usung Tiga Kamera 50MP dan Baterai Jumbo untuk Fotografi Seharian
Porsche 911 Carrera T Kini Hadir dalam Versi Turbo Hybrid, Performa Legendaris Masuk Era Baru
Chevrolet Bel Air 2027 Bangkit dengan Aura Futuristik, Mobil Legendaris Amerika Kini Berubah Jadi Monster Hybrid Mewah