Jakarta — Film “Yohanna” karya sutradara sekaligus produser Razka Robby Ertanto menghadirkan pendekatan berbeda dengan mengangkat kisah yang terinspirasi langsung dari kehidupan masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur. Proyek ini menonjol berkat penggunaan mayoritas pemain lokal dari wilayah tersebut.
Dalam pernyataannya di kawasan Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (3/4), Robby mengungkapkan bahwa proses kreatif film ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya selama bolak-balik ke Sumba.
Ia menyebut banyak inspirasi muncul dari kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama anak-anak yang tumbuh di lingkungan pasar dan terlihat lebih dewasa dari usia mereka. Dari situlah lahir ide cerita yang kemudian berkembang menjadi karakter Yohanna.
“Sumba sangat menginspirasi saya dalam bercerita. Hal yang paling berkesan adalah keterlibatan anak-anak dan masyarakat lokal yang dilatih untuk berakting di depan kamera,” ujarnya.
Film ini turut menghadirkan aktris Laura Basuki sebagai tokoh suster Yohanna, serta didukung oleh Jajang C. Noer, Kirana Grasela, Iqua Tahlequa, dan Videlis Siprianus Diki. Sementara itu, sebagian besar pemain lainnya merupakan talenta lokal Sumba yang sebelumnya belum memiliki pengalaman di dunia perfilman.
Menurut Robby, keputusan tersebut diambil untuk menjaga autentisitas cerita sekaligus memberikan ruang bagi potensi lokal. Ia juga menyebut proses casting dan pendekatan kepada para pemain dilakukan secara intens, termasuk pelatihan akting oleh almarhum Yayu Unru.
Film “Yohanna” telah lebih dulu diputar di sejumlah festival internasional, termasuk kompetisi Big Screen di International Film Festival Rotterdam, dan mendapat respons positif dari penonton global. Penampilan Laura Basuki bahkan diganjar penghargaan sebagai aktris terbaik dalam ajang Asian Cinema di Italia.
Robby mengaku tidak menyangka film yang diproduksi dalam waktu relatif singkat, sekitar 10 hari masa syuting, mampu menembus festival internasional dan meraih apresiasi luas.
Selain sisi artistik, “Yohanna” juga mengangkat pesan tentang keberagaman, iman, dan kemanusiaan. Film ini menggambarkan realitas kehidupan yang tidak selalu hitam putih, melainkan penuh dinamika dan pergulatan batin manusia.
“Manusia itu abu-abu. Keimanan bisa naik turun, dan justru dalam ujian kita bisa kembali mendekat kepada Tuhan,” jelasnya.
Menariknya, versi yang diputar di festival menggunakan alur non-linear, sementara untuk penayangan di Indonesia disajikan dalam versi linear agar lebih mudah dipahami penonton lokal.
Film “Yohanna” dijadwalkan tayang di jaringan bioskop nasional mulai 9 April, berdekatan dengan momen Paskah. Robby berharap film ini dapat menjadi refleksi tentang pentingnya kedamaian, keberagaman, serta pencarian makna hidup di tengah realitas masyarakat Indonesia.
Artikel Terkait
PBB Soroti Serangan Sekolah di Starobilsk, Desak Perlindungan Anak dan Gencatan Senjata di Ukraina
King Nasar Bongkar Kerinduannya pada Panggung DA7 Indosiar, Hafal Nama Kontestan hingga Bikin Studio Pecah Tawa
“Pink” Meledak di TikTok! Lagu Viral Kreator Korea Bawa Nuansa Dark Pop Ala Billie Eilish ke Era Musik Internet
“Pilih Kambing untuk Diri Sendiri”, Irfan Sebaztian Ungkap Makna Idul Adha dan Tradisi Kurban Bareng Keluarga