PBB Soroti Eskalasi Konflik Global, Serukan Gencatan Senjata di Ukraina dan Lebanon

Jum'at, 29/05/2026
 PBB Soroti Eskalasi Konflik Global, Serukan Gencatan Senjata di Ukraina dan Lebanon
konferensi pers di Markas Besar PBB, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap meningkatnya konflik dan krisis kemanusiaan di berbagai belahan dunia, mulai dari Ukraina, Lebanon, Republik Demokratik Kongo, hingga Haiti. Dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB menegaskan pentingnya deeskalasi konflik dan perlindungan warga sipil.

PBB mengumumkan bahwa Sekretaris Jenderal António Guterres dijadwalkan memberikan pengarahan khusus di Dewan Keamanan terkait eskalasi terbaru perang Ukraina dan Rusia. Dalam pidatonya, Guterres akan menyerukan gencatan senjata penuh dan tanpa syarat di tengah meningkatnya korban sipil akibat serangan dalam beberapa hari terakhir.

Menurut data kemanusiaan PBB, lebih dari 240 korban sipil tercatat di Ukraina dalam tiga hari terakhir, termasuk anak-anak. Serangan juga merusak sekolah, infrastruktur energi, dan fasilitas pertanian.

PBB turut melaporkan serangan terhadap pekerja kemanusiaan di Ukraina. Dua relawan organisasi lokal mengalami luka ringan akibat serangan drone di Kota Sumy, sementara gudang bantuan pangan milik World Food Programme (WFP) di Dnipro dihantam rudal yang menghancurkan bantuan senilai lebih dari 1,4 juta dolar AS untuk sekitar 130 ribu warga di garis depan.

Di Lebanon, PBB menyampaikan kekhawatiran besar atas meningkatnya serangan udara Israel di wilayah selatan Beirut dan area operasi UNIFIL. Organisasi tersebut mencatat sekitar 670 proyektil ditembakkan dalam sehari, jumlah tertinggi sejak penghentian permusuhan diberlakukan pada April lalu.

PBB menegaskan bahwa warga sipil dan infrastruktur sipil tidak boleh menjadi sasaran serangan. Evakuasi besar-besaran akibat konflik juga dilaporkan memaksa ratusan ribu warga mengungsi dari wilayah selatan Lebanon.

Sementara itu, krisis Ebola di Republik Demokratik Kongo semakin memburuk. PBB menyebut wabah kini telah menyebar ke 13 zona kesehatan dengan lebih dari seribu kasus suspek, 121 kasus terkonfirmasi, dan 17 kematian, termasuk enam tenaga kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah ini menjadi epidemi Ebola terbesar ketiga dalam sejarah.

UNICEF bersama mitra kemanusiaan telah mengirim lebih dari 100 ton bantuan medis dan perlengkapan pelindung bagi tenaga kesehatan ke wilayah terdampak. Namun upaya penanganan masih terkendala pembatasan pergerakan dan situasi keamanan akibat aktivitas kelompok bersenjata di wilayah timur Kongo.

Di Uganda, PBB dan mitra kemanusiaan meluncurkan permohonan dana darurat sebesar 15,8 juta dolar AS untuk mendukung respons terhadap wabah Ebola yang juga mulai menyebar di negara tersebut. Pemerintah Uganda bahkan menutup sementara perbatasan dengan Kongo selama empat minggu untuk menekan risiko penularan.

Krisis kemanusiaan juga terus memburuk di Haiti. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat hampir 1,5 juta warga kini mengungsi akibat kekerasan bersenjata yang terus melanda negara itu. Sebagian besar pengungsi hidup dalam kondisi memprihatinkan dengan akses terbatas terhadap pangan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal layak.

Selain konflik dan wabah penyakit, PBB juga mengingatkan ancaman perubahan iklim global. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan suhu rata-rata dunia akan tetap berada di level rekor dalam lima tahun ke depan dengan peningkatan suhu ekstrem di kawasan Arktik.

Dalam kesempatan yang sama, PBB juga mengumumkan peringatan Hari Pasukan Penjaga Perdamaian Internasional yang jatuh pada 29 Mei dengan tema “Invest in Peace”. Sejumlah penghargaan diberikan kepada personel penjaga perdamaian dari Ukraina, Uruguay, India, dan Jerman atas keberanian dan kontribusi mereka dalam misi perdamaian dunia.

Konferensi pers turut diwarnai pertanyaan wartawan mengenai keputusan Israel yang disebut memutus komunikasi dengan kantor Sekretaris Jenderal PBB. Menanggapi hal tersebut, pihak PBB menegaskan pintu dialog tetap terbuka bagi seluruh negara anggota, termasuk Israel.

“Berkomunikasi selalu lebih baik dibandingkan memutus hubungan,” tegas juru bicara Sekretaris Jenderal PBB.

Tags

Terkini