Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan optimismenya usai melakukan pertemuan panjang dengan Presiden China Xi Jinping. Dalam wawancara usai kunjungan tersebut, Trump menyebut pembicaraan kedua negara berjalan sangat baik dan menghasilkan sejumlah kesepakatan penting di bidang perdagangan, keamanan, hingga teknologi kecerdasan buatan.
Trump mengklaim salah satu pencapaian terbesar dari pertemuan itu adalah kesepakatan pembelian pesawat dalam jumlah besar oleh China dari Boeing. Ia mengatakan kesepakatan awal mencakup lebih dari 200 pesawat dengan potensi total hingga 750 unit apabila kerja sama berjalan lancar.
“Ini bisa menjadi pesanan terbesar dalam sejarah Boeing,” ujar Trump di hadapan wartawan.
Selain pesawat, Trump menyebut China juga akan membeli ratusan mesin pesawat buatan General Electric sebagai bagian dari paket kerja sama industri penerbangan kedua negara.
Isu geopolitik turut mendominasi pembicaraan, terutama mengenai Iran dan Taiwan. Trump menegaskan dirinya tetap menolak kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.
“Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Itu tidak akan terjadi,” tegasnya.
Trump juga mengungkap bahwa dirinya dan Xi Jinping memiliki “pemahaman yang baik” terkait situasi Taiwan. Meski demikian, ia tidak memberikan komitmen tegas mengenai kemungkinan dukungan militer Amerika Serikat jika konflik terjadi di kawasan tersebut.
“Saya tidak membicarakan hal itu. Hanya ada satu orang yang tahu keputusan itu, dan orang itu adalah saya,” kata Trump saat ditanya apakah AS akan membela Taiwan.
Trump menyebut Xi Jinping menentang gerakan kemerdekaan Taiwan karena dianggap berpotensi memicu konfrontasi besar. Namun ia menegaskan belum mengambil keputusan final terkait penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengungkap pembicaraan mengenai kecerdasan buatan atau AI. Ia mengatakan Amerika Serikat dan China membahas kemungkinan kerja sama dalam membuat “guard rails” atau standar pengamanan teknologi AI agar tidak disalahgunakan.
“Kami memimpin jauh dalam AI, tetapi China berada di posisi kedua dan mereka sangat kuat,” ujar Trump.
Trump menilai AI akan membawa dampak besar bagi kesehatan, militer, hingga dunia teknologi, namun ia mengakui teknologi tersebut juga memiliki risiko besar, termasuk ancaman siber dan biologis.
Selain membahas China, Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap media Amerika Serikat seperti CNN dan The New York Times yang menurutnya memberitakan konflik Iran secara tidak akurat. Ia bahkan menyebut sejumlah laporan media sebagai tindakan yang “memalukan” dan “menyesatkan publik”.
Trump juga mengklaim operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran berhasil melumpuhkan sebagian besar kekuatan militer negara tersebut, termasuk sistem pertahanan udara, radar, dan fasilitas produksi misil.
Di sisi lain, Trump mengonfirmasi dirinya membahas perang Ukraina bersama Xi Jinping dan berharap konflik tersebut segera berakhir meski situasi terbaru disebutnya kembali memburuk akibat serangan besar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Tak hanya itu, Trump turut menyinggung hubungan dengan Korea Utara dan menyatakan dirinya masih memiliki komunikasi yang baik dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.
“Saya punya hubungan yang sangat baik dengan Kim Jong-un. Dia menghormati negara kami,” ucap Trump.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping dipandang menjadi salah satu momentum diplomatik paling penting tahun ini di tengah ketegangan global terkait perdagangan, teknologi, Taiwan, hingga keamanan internasional. Kedua pemimpin disebut akan kembali bertemu dalam sejumlah forum besar internasional, termasuk agenda G20 Summit mendatang.