Antalya — Isu konflik global, kerja sama regional, hingga masa depan tatanan dunia menjadi sorotan utama dalam Antalya Diplomacy Forum 2026. Dalam sesi konferensi pers, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan pentingnya kolaborasi antarnegara kawasan untuk meredakan krisis yang terus berkembang.
Fidan menjelaskan bahwa pertemuan empat negara—Turki, Pakistan, Arab Saudi, dan Mesir—tidak bertujuan membentuk aliansi militer, melainkan memperkuat kerja sama konkret di berbagai sektor seperti ekonomi, teknologi, kesehatan, dan keamanan.
“Tujuan kami adalah menghadirkan agenda yang realistis dan dapat diterapkan, demi stabilitas kawasan,” ujarnya. Ia juga menolak anggapan sejumlah media asing yang menyebut kerja sama tersebut sebagai blok ideologis atau aliansi eksklusif.
Fokus pada Gaza dan Gencatan Senjata
Dalam isu Gaza, Fidan mengakui situasi masih menghadapi banyak hambatan, terutama terkait distribusi bantuan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa komunitas internasional terus mendorong implementasi rencana perdamaian yang telah dirancang sebelumnya.
Menurutnya, perpanjangan gencatan senjata menjadi kunci untuk membuka ruang negosiasi lebih lanjut. “Tidak ada pihak yang menginginkan perang kembali pecah. Tekanan global saat ini sangat kuat untuk menjaga proses damai tetap berjalan,” katanya.
Peran Mediasi dalam Konflik Global
Turki juga menegaskan perannya sebagai mediator dalam berbagai konflik, termasuk negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang saat ini difasilitasi oleh Pakistan. Fidan menyebut pembicaraan telah mencapai tahap krusial, meski masih terdapat perbedaan di beberapa poin penting.
Selain itu, Turki terus memantau perkembangan perang Rusia dan Ukraina, serta menyatakan kesiapan untuk kembali menjadi tuan rumah perundingan damai di Istanbul.
Stabilitas Kawasan dan Energi Global
Isu strategis lain yang dibahas adalah ketegangan di Selat Hormuz. Fidan menyebut kondisi di jalur energi global tersebut masih dinamis dan terus dipantau, mengingat dampaknya terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi dunia.
Ia juga menyoroti konflik di Lebanon serta meningkatnya ketegangan regional yang berpotensi memperluas krisis. Menurutnya, penyelesaian konflik harus mengedepankan diplomasi dan kerja sama, bukan konfrontasi.
Dunia Menuju Tatanan Baru
Dalam pandangannya, dunia saat ini tengah memasuki fase ketidakpastian dengan melemahnya peran kekuatan besar. Hal ini membuka ruang bagi negara-negara “middle powers” untuk mengambil peran lebih aktif dalam menyelesaikan konflik global.
“Tidak ada lagi krisis yang benar-benar bersifat lokal. Semua konflik kini saling terhubung dan berdampak global,” jelas Fidan.
Forum ini juga menampilkan simbol solidaritas regional melalui pertemuan para pemimpin, termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan bersama pemimpin negara lain, yang menegaskan pentingnya kerja sama lintas kawasan dalam menghadapi tantangan global.
Dengan meningkatnya kompleksitas konflik dan keterkaitan antarnegara, Forum Diplomasi Antalya 2026 menegaskan satu pesan utama: solusi masa depan bergantung pada kolaborasi, bukan konfrontasi.