Citraselebriti – Dunia seni rupa Korea Selatan tengah mengalami gelombang pembaruan yang berani. Sejumlah seniman muda hingga nama-nama mapan menghadirkan karya yang melampaui batas konvensi, mulai dari reinterpretasi lukisan tradisional Timur hingga perpaduan seni murni dan desain kontemporer.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah karya-karya pelukis oriental modern yang berhasil menghadirkan visual realistis menggunakan medium tradisional. Seniman Choi Soo-kyung, misalnya, menghadirkan lukisan bunga mawar dan pemandangan sehari-hari dengan detail menyerupai foto. Padahal, teknik lukisan Timur yang menggunakan tinta dan kertas hanji dikenal sulit menghasilkan detail realistis karena mudah menyerap dan menyebarkan warna.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Choi membangun lapisan warna berulang kali di atas kertas khusus yang tebal. Proses pengerjaan satu karya bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan. Melalui teknik tersebut, ia mengabadikan momen-momen sederhana yang sering luput dari perhatian, seperti semak tumbang atau jejak kaki di jalan.
Eksplorasi lain datang dari Jung Yong-guk, seniman yang selama lebih dari tiga dekade meneliti kemungkinan baru dalam lukisan tinta tradisional. Dengan menggunakan satu warna tinta hitam, ia mampu menghasilkan tekstur batu, riak air, hingga efek tiga dimensi yang luar biasa. Rahasianya terletak pada proses pelapisan tinta yang dilakukan berulang kali untuk menciptakan gradasi dan kontras yang halus.
Sementara itu, Son Seung-beom memilih menantang tradisi dari sisi tema. Jika lukisan Timur klasik biasanya menampilkan objek bernilai tinggi seperti bunga peoni, buku, atau benda-benda bersejarah, Son justru mengangkat rumput liar, batu kecil, dan bunga liar sebagai subjek utama. Melalui pendekatan uniknya, benda-benda yang dianggap remeh itu mendapatkan posisi penting dalam karya seni.
Pandangan baru terhadap alam juga ditawarkan oleh seniman Seung Joo. Berbeda dengan lukisan lanskap tradisional yang menonjolkan keindahan dan kemegahan alam, ia menggambarkan ketegangan dan kecemasan yang dirasakan makhluk hidup saat berjuang bertahan di lingkungan yang keras. Hewan-hewan dalam lukisannya tampak bergerak gelisah, melompat keluar dari persembunyian, atau berlari tanpa arah sebagai simbol naluri bertahan hidup.
Tak kalah menarik, karya-karya 15 lulusan baru sekolah seni Korea Selatan turut menunjukkan keberanian bereksperimen. Melalui media lukis, instalasi, hingga seni video, mereka mengangkat isu-isu kontemporer yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Kim Ji-won, misalnya, menggunakan sosok harimau sebagai metafora masyarakat modern yang semakin individualistis. Dalam salah satu karyanya, harimau menghembuskan asap biru yang di dalamnya tergambar harimau lain tersesat di antara gedung-gedung padat. Karya tersebut merefleksikan tekanan ekonomi, sulitnya memiliki rumah, serta kepadatan wilayah metropolitan yang dihadapi generasi muda Korea.
Seniman Gae Eun-seo menghadirkan instalasi video yang mengeksplorasi momen singkat antara permintaan pelanggan dan respons dirinya saat bekerja di bidang kecantikan. Ia mencoba memvisualisasikan jeda waktu yang nyaris tak terlihat namun sebenarnya selalu hadir dalam interaksi manusia.
Sementara itu, Park Seo-hyun memberikan kehidupan baru pada material keramik. Melalui susunan pecahan keramik yang berkilau dan berlapis-lapis, ia menciptakan bentuk menyerupai organisme laut yang tampak hidup dan bergerak.
Fotografer Jo Jae-ya juga menghadirkan karya yang kuat secara visual. Dalam fotonya, sejumlah individu terlihat saling berpelukan dengan wajah tertutup kain merah. Karya tersebut menggambarkan tekanan sosial yang membuat manusia kehilangan identitas dan kesulitan mengekspresikan diri secara bebas.
Di antara nama-nama yang tengah naik daun, Kim Choong-jae menjadi salah satu figur paling menonjol. Dikenal publik sebagai “kakak mahasiswa seni”, ia sebenarnya merupakan seniman yang aktif menjembatani dunia desain dan seni murni. Kreativitasnya telah membawanya berkolaborasi dengan berbagai proyek internasional, termasuk merek mewah dan institusi desain global.
Kim mengubah furnitur sehari-hari seperti meja dan lampu menjadi objek artistik yang menyerupai patung atau lukisan abstrak. Ia menggabungkan proses kerajinan tangan dengan teknologi digital seperti pemindaian 3D dan mesin CNC untuk menciptakan karya yang memadukan unsur spontanitas manusia dan presisi teknologi
Dalam salah satu karya terbarunya, Kim menggunakan cermin sebagai medium untuk mengangkat konsep “kita” yang sangat lekat dalam budaya Korea. Lingkaran-lingkaran yang berulang dalam karya tersebut melambangkan individu yang saling terhubung. Karena terbuat dari cermin, pengunjung yang melihat karya itu akan ikut tercermin dan menjadi bagian dari komposisi, sehingga makna hubungan antarmanusia baru benar-benar lengkap ketika ada partisipasi penonton.
Berbagai karya inovatif dari seniman-seniman Korea Selatan ini akan dipamerkan dalam Ulsan International Art Fair 2026 yang berlangsung pada 18–21 Juni 2026. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati karya-karya tersebut secara langsung, tetapi juga berkesempatan mengoleksi karya seni yang dipamerkan di lokasi acara.
Artikel Terkait
Sunan Kalijaga Kawal Kasus Dugaan Penggelapan Barang Milik Putri, Datangi Polres Jaksel
HERMÈS Tampilkan Koleksi Fall/Winter 2026 di Los Angeles, Soroti Elegansi dan Gerak yang Puitis
FANTASTICS Rilis “SUNFLOWER”, Lagu Tentang Harapan dan Keteguhan Menghadapi Ketidakpastian
“Berlin” dari Makar Tampilkan Nuansa Emosional dan Romansa Kelam