Markas Besar United Nations menjadi sorotan dunia setelah Konferensi Tinjauan ke-11 Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) resmi berakhir tanpa dokumen kesepakatan bersama. Kegagalan mencapai konsensus ini memicu kekhawatiran serius terhadap masa depan rezim perlucutan senjata nuklir global.
Presiden konferensi, Duta Besar Viet, mengaku kecewa karena negara-negara peserta gagal memanfaatkan momentum penting untuk menciptakan dunia yang lebih aman dari ancaman senjata nuklir. Meski demikian, ia tetap mengapresiasi keterlibatan aktif seluruh negara anggota selama empat minggu pembahasan intensif berlangsung.
“Kami memiliki diskusi yang sangat jujur mengenai kondisi NPT saat ini dan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaikinya. Sayangnya hasil substansial yang telah dibangun tidak dapat diadopsi,” ujarnya dalam konferensi pers di markas PBB.
Menurut Viet, situasi geopolitik global yang dipenuhi ketegangan serta meningkatnya risiko penggunaan senjata nuklir menuntut tindakan mendesak dari komunitas internasional. Ia menilai kegagalan konferensi kali ini menjadi pukulan berat karena untuk ketiga kalinya secara beruntun konferensi tinjauan NPT berakhir tanpa hasil konsensus.
“Kita sudah 16 tahun tanpa kesepakatan baru untuk memperkuat implementasi NPT. Ini sangat berbahaya bagi masa depan rezim non-proliferasi,” katanya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal sekaligus Perwakilan Tinggi Urusan Perlucutan Senjata PBB, Izumi Nakamitsu, menegaskan dunia sedang berada di jalur yang sangat berbahaya menuju perlombaan senjata nuklir baru.
Ia menyoroti modernisasi arsenal nuklir oleh sejumlah negara pemilik senjata nuklir serta meningkatnya retorika ancaman nuklir di tengah konflik global yang memanas.
“Non-proliferasi dan perlucutan senjata adalah dua sisi mata uang yang sama. Tidak mungkin negara-negara non-nuklir terus mematuhi kewajiban mereka jika negara pemilik senjata nuklir tidak menunjukkan komitmen nyata terhadap perlucutan senjata,” tegas Nakamitsu.
Dalam sesi tanya jawab, Viet membantah tudingan bahwa satu negara tertentu menjadi penyebab utama gagalnya konsensus. Ia menyatakan tidak ada satu pihak yang secara langsung “memblokir” kesepakatan, melainkan terdapat banyak isu sensitif yang saling bertentangan di antara negara-negara peserta.
Salah satu isu paling kontroversial muncul pada paragraf 15 dalam rancangan dokumen akhir yang disebut menjadi titik perdebatan utama. Viet mengungkapkan dirinya memilih tidak membawa dokumen tersebut ke tahap pengesahan demi menjaga netralitas dan menghindari menyalahkan negara tertentu.
“Kami bisa saja mengajukan teks yang akan ditolak negara A atau negara B. Namun saya memilih untuk tidak menempatkan negara mana pun sebagai pihak yang disalahkan atas kegagalan konferensi,” jelasnya.
Konferensi juga menyoroti kekhawatiran meningkatnya perlombaan senjata nuklir, modernisasi hulu ledak, hingga potensi penggunaan senjata nuklir akibat situasi internasional yang semakin tegang.
PBB menegaskan perjuangan menuju perlucutan senjata nuklir tidak akan berhenti meski konferensi kali ini gagal menghasilkan dokumen final. Nakamitsu memastikan berbagai jalur diplomasi dan forum internasional lain akan terus digunakan demi menjaga perdamaian dunia.
“Kami tidak akan menyerah. Dunia harus kembali ke jalur perdamaian berkelanjutan, bukan menuju dinamika perlombaan senjata,” ujarnya.
Dalam penutupan konferensi pers, kedua pejabat PBB turut menyampaikan penghormatan kepada para hibakusha atau penyintas bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Mereka menilai kisah para korban harus terus diwariskan kepada generasi muda agar dunia tidak melupakan dampak kemanusiaan dari perang nuklir.
Artikel Terkait
PBB Gagal Capai Konsensus, Ancaman Nuklir Dunia Kian Mengkhawatirkan
Malta, Surga Kecil di Laut Mediterania yang Bikin Dunia Terpesona pada 2026
Dj Kip Padukan AI dan EDM Modern dalam Lagu “SUMMER DREAM”
Jembatan di Atas Danau “Mustahil” Ini Bertahan 70 Tahun Tanpa GPS dan Komputer