Turnamen beregu bergengsi Thomas & Uber Cup baru saja berakhir di Denmark, namun perhatian para pebulu tangkis dunia kini langsung beralih ke rangkaian HSBC BWF World Tour di Asia. Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah juara bertahan Toyota Thailand Open, Chen Yufei, yang bertekad bangkit usai hasil mengecewakan di Uber Cup.
Dalam program Badminton Weekly, analis Chris Langridge menilai kekalahan yang dialami pemain ranking empat dunia itu lebih dipengaruhi faktor mental dibanding kemampuan teknik. Menurutnya, tekanan besar dalam pertandingan krusial bisa memengaruhi pola pikir atlet elite.
“Di level tertinggi, faktor mental sangat besar. Kadang pemain tidak bermain buruk karena kehilangan kemampuan, tetapi karena terlalu banyak tekanan di kepala mereka,” ujar Langridge.
Ia menambahkan bahwa kekalahan di laga besar memang dapat meninggalkan keraguan dalam diri atlet. Namun, pengalaman dan kemampuan yang dimiliki Chen diyakini cukup untuk membantunya segera bangkit dalam tur Asia.
Selain sektor tunggal putri, perhatian juga tertuju pada sejumlah pasangan muda yang tengah naik daun. Langridge menyoroti pasangan muda yang tampil mengejutkan di All England setelah berhasil mencapai semifinal, namun kemudian mengalami penurunan performa di beberapa turnamen berikutnya.
Menurutnya, perubahan status dari pasangan “underdog” menjadi unggulan justru menghadirkan tekanan baru. Ia menilai publik kini mulai memiliki ekspektasi tinggi terhadap mereka.
“Mereka sebelumnya bermain tanpa tekanan. Sekarang semua orang mulai berharap banyak, dan itu mengubah situasi,” katanya.
Sementara itu, salah satu bintang baru yang mencuri perhatian di Thomas Cup adalah Ayush Shetty. Pebulu tangkis 21 tahun asal India itu tampil impresif di sektor tunggal putra dan membantu negaranya meraih medali perunggu.
Shetty sukses mengalahkan Lin Chun-Yi di babak perempat final lewat permainan taktis dan penuh ketenangan. Pengamat Selena Piek memuji kedewasaan permainan Shetty, terutama dalam mengendalikan tempo pertandingan dan menghadapi tekanan tim.
“Dia bermain sangat matang untuk usianya. Bukan hanya soal teknik, tapi juga cara dia mengatasi tekanan,” ujar Piek.
Meski begitu, Shetty dinilai masih perlu meningkatkan konsistensi dan ketenangan saat menghadapi tekanan besar. Kekalahan telak dari Christo Popov sebelumnya disebut menjadi bukti bahwa aspek mental masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemain muda India tersebut.
Di sisi lain, dunia bulu tangkis juga tengah bersiap menyambut perubahan besar setelah BWF resmi mengesahkan sistem skor baru 3x15 mulai Januari tahun depan. Keputusan itu diambil dalam rapat tahunan BWF di Horsens.
Sejumlah pemain mengaku harus menyesuaikan strategi permainan mereka. Banyak yang menilai format baru akan membuat pertandingan berlangsung lebih cepat dan agresif sejak awal gim.
“Poin awal akan sangat penting. Pemain harus langsung menyerang sejak awal,” ujar salah satu atlet dalam wawancara BWF.
Perubahan sistem skor ini diyakini akan mengubah pola latihan, strategi, hingga ritme permainan para atlet dunia.
Dari sektor ganda campuran, pasangan Malaysia Chen Tang Jie dan Toh Ee Wei juga menjadi sorotan menjelang Perodua Malaysia Masters. Pasangan ranking empat dunia itu berharap bisa meraih gelar perdana di kandang sendiri setelah beberapa hasil mengecewakan pada edisi sebelumnya.
Keduanya mengungkapkan bahwa sempat berpisah pasangan justru membantu mereka memperbaiki komunikasi dan saling memahami satu sama lain.
“Kami sekarang lebih percaya satu sama lain dan lebih menghargai arti kerja sama dalam nomor ganda,” ujar Toh Ee Wei.
Pasangan juara dunia itu memutuskan absen dari Thailand Open demi fokus penuh menghadapi Malaysia Masters yang dimulai pada 19 Mei mendatang.
Artikel Terkait
Formula Offroad Iceland 2026 Dibuka di Hella, Mobil-Mobil Monster Taklukkan Sungai dan Tebing Ekstrem
The Icon Indonesia: Ahmad Dhani Bongkar Rahasia Nada Peserta, Gerald Diminta Naik Key Agar Suara Lebih “Nembus”
Shakira Rilis “DAI’ DAI’”, Anthem Resmi Piala Dunia FIFA 2026 yang Penuh Semangat Persatuan
Kapal Pesiar Raksasa “Icon of the Seas” Jadi Kota Terapung Paling Canggih di Dunia