Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya dalam rapat terbaru Federal Open Market Committee (FOMC), di tengah meningkatnya inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa ekonomi AS masih menunjukkan pertumbuhan yang solid, didukung oleh konsumsi masyarakat dan investasi bisnis yang kuat. Namun, ia mengakui bahwa sektor perumahan masih lemah, sementara pertumbuhan lapangan kerja melambat dengan tingkat pengangguran stabil di kisaran 4,3%.
Powell juga menyoroti bahwa inflasi kembali meningkat dan masih berada di atas target jangka panjang sebesar 2%. Data terbaru menunjukkan inflasi berbasis PCE mencapai sekitar 3,5% dalam 12 bulan terakhir, didorong oleh kenaikan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan sektor pangan dan energi berada di level 3,2%.
“Ketidakpastian ekonomi saat ini sangat tinggi, terutama akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi,” ujar Powell.
Meski tekanan inflasi meningkat, The Fed memilih mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Kebijakan ini dinilai masih tepat untuk menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan menekan inflasi.
Powell menegaskan bahwa arah kebijakan ke depan tidak bersifat tetap. Bank sentral akan terus memantau data ekonomi, perkembangan inflasi, serta risiko global sebelum mengambil keputusan berikutnya.
“Kami berada dalam posisi yang cukup baik untuk menunggu dan melihat perkembangan. Jika diperlukan, kami siap menyesuaikan suku bunga, baik naik maupun turun,” jelasnya.
Selain itu, Powell memperingatkan bahwa lonjakan harga energi berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Namun sejauh ini, konsumsi masyarakat AS masih tergolong kuat dan ekonomi tetap menunjukkan ketahanan.
Dalam pernyataan penutupnya, Powell juga menyinggung masa jabatannya yang akan segera berakhir. Ia menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga independensi The Fed dari tekanan politik, serta memastikan kebijakan moneter tetap berfokus pada kepentingan publik.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah tekanan inflasi dan gejolak global akan memaksa The Fed mengubah arah kebijakan, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga atau penundaan rencana pelonggaran moneter.
Artikel Terkait
Gol Ronaldo Jadi Penentu, Al Nassr Kalahkan Al Ahli dan Makin Dekat Gelar
Euforia dan Sindiran Warnai Suara Penonton di Laga Al Nassr vs Al Ahli
Misi Artemis 2 Disambut Hangat di Gedung Putih, Awak Tegaskan Semangat Eksplorasi Global
Drama dan Sejarah di Daytona 200 2026: Herrin Samai Rekor, Kayla Yaakov Cetak Sejarah