Yerusalem — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan hasil kunjungannya ke Amerika Serikat usai bertemu Presiden Donald Trump. Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan pembahasan utama berfokus pada Iran, keamanan regional, serta perkembangan konflik Gaza.
Menurutnya, Washington tengah berupaya membuka peluang kesepakatan baru dengan Iran, meski ia mengaku tetap skeptis terhadap komitmen Teheran.
Netanyahu menegaskan setiap kesepakatan harus memenuhi sejumlah syarat utama, di antaranya penghentian pengayaan uranium, pembongkaran infrastruktur nuklir, pembatasan program rudal balistik, pembubaran jaringan kelompok proksi, serta inspeksi internasional yang ketat.
Ia menyebut langkah tersebut penting bukan hanya bagi keamanan Israel, tetapi juga stabilitas global.
Target Operasi di Gaza
Selain Iran, pembahasan juga mencakup situasi di Gaza Strip. Netanyahu menyatakan pemerintah Israel memiliki tiga tujuan utama sejak serangan 7 Oktober: membebaskan sandera, melucuti kemampuan militer Hamas, dan mengakhiri kekuasaan kelompok tersebut.
Ia mengklaim sebagian target telah tercapai, sementara operasi militer masih berlanjut untuk menghancurkan persenjataan, jaringan terowongan, serta kemampuan organisasi tersebut untuk kembali mempersenjatai diri.
Menurutnya, rencana perdamaian yang diajukan AS memberi kesempatan penyelesaian tanpa eskalasi besar, namun Israel tetap akan bertindak bila terjadi serangan.
Ekonomi dan Hubungan Internasional
Netanyahu juga menyoroti kondisi ekonomi Israel yang menurutnya tetap tumbuh meski dilanda perang panjang. Ia menyebut investasi asing meningkat, inflasi menurun, dan sektor teknologi berkembang pesat.
Beberapa negara disebut menunjukkan minat kerja sama, termasuk India serta sejumlah negara Amerika Latin. Ia juga menyinggung rencana peningkatan kolaborasi teknologi dengan Amerika Serikat di bidang kecerdasan buatan dan keamanan siber.
Seruan Melawan Anti-Semitisme
Di akhir pidato, Netanyahu menyoroti meningkatnya anti-Semitisme global. Ia menyerukan komunitas Yahudi di berbagai negara untuk melawan narasi kebencian melalui jalur politik, media, dan informasi.
“Israel tidak lagi lemah. Kami mampu mempertahankan diri dan akan terus melakukannya,” ujarnya.
Pidato tersebut menegaskan posisi pemerintah Israel yang tetap keras terhadap ancaman keamanan, sekaligus membuka ruang diplomasi dengan dukungan Amerika Serikat.
Artikel Terkait
Spanyol vs Portugal Sajikan Duel Sengit, Gol Spektakuler Warnai Laga di Munich
Presiden AS Donald Trump Sampaikan Pesan Paskah, Soroti Makna Kebangkitan dan Harapan
Jajang C. Noer Protes Peran Cameo di Film Yohanna, Singgung Pesan Kasih dalam Cerita
Laura Basuki Ungkap Tantangan dan Makna Spiritual di Film Yohanna