Yerevan – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance melakukan kunjungan resmi ke Armenia dan menyampaikan pernyataan bersama dengan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, menandai tonggak bersejarah dalam hubungan bilateral kedua negara. Kunjungan ini menjadi kunjungan pertama Wakil Presiden Amerika Serikat ke Republik Armenia.
Dalam kesempatan tersebut, kedua negara secara resmi menyelesaikan negosiasi dan menandatangani pernyataan bersama terkait Perjanjian Kerja Sama Nuklir Damai (123 Agreement) antara Amerika Serikat dan Armenia. Dari pihak Armenia, dokumen ditandatangani oleh PM Nikol Pashinyan, sementara dari pihak Amerika Serikat ditandatangani langsung oleh Wapres JD Vance.
PM Pashinyan menyebut kunjungan ini memiliki arti historis dan simbolis, serta mencerminkan kedalaman kemitraan strategis Armenia–Amerika Serikat, khususnya dalam konteks upaya menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan Kaukasus Selatan.
“Ini adalah kunjungan Wakil Presiden AS pertama ke Armenia dan berlangsung dalam situasi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu proses nyata menuju perdamaian dan stabilitas kawasan,” ujar Pashinyan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden AS Donald Trump dan Wapres JD Vance atas penyelenggaraan Washington Peace Summit pada 8 Agustus 2025, yang disebut berhasil mendorong perdamaian antara Armenia dan Azerbaijan. Pashinyan mengungkapkan bahwa dirinya bersama Presiden Azerbaijan bahkan telah mengajukan Presiden Trump sebagai calon penerima Nobel Perdamaian 2026.
Selain kerja sama nuklir, pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda strategis lainnya, termasuk proyek Trump Route for International Peace and Prosperity (TRIP) yang bertujuan membuka jalur komunikasi, perdagangan, dan energi antara Barat dan Timur. Proyek ini dinilai memiliki dampak regional dan global, baik dari sisi ekonomi maupun stabilitas jangka panjang.
Kedua pihak juga menyoroti kemajuan signifikan dalam kerja sama teknologi tinggi, khususnya di bidang kecerdasan buatan dan semikonduktor. Pemerintah AS telah menyetujui izin ekspor chip canggih Nvidia ke Armenia untuk mendukung pembangunan pusat data dan fasilitas AI oleh perusahaan Firebird.
Dalam bidang energi, Perjanjian Nuklir Damai membuka peluang pengembangan reaktor modular kecil (SMR) dan kerja sama proyek sipil nuklir senilai miliaran dolar AS, yang diharapkan memperkuat ketahanan energi Armenia sekaligus menciptakan lapangan kerja di Amerika Serikat.
Kerja sama pertahanan juga menjadi bagian penting pembahasan. Armenia dan AS melanjutkan latihan militer bersama Eagle Partnership serta menyepakati penjualan drone pengawasan VBAT senilai sekitar US$11 juta guna memperkuat kemampuan pertahanan Armenia.
Wapres JD Vance dalam pernyataannya menegaskan bahwa perdamaian hanya dapat terwujud melalui kepemimpinan visioner dan fokus pada masa depan.
“Perdamaian tidak dibangun oleh orang yang terlalu terikat pada masa lalu, tetapi oleh mereka yang berani menatap masa depan,” ujar Vance.
Ia menilai kemitraan Armenia–AS kini memasuki babak baru yang tidak hanya berorientasi pada stabilitas, tetapi juga pada kemakmuran bersama, investasi, dan konektivitas regional.
Kedua pemimpin menegaskan bahwa hubungan Armenia dan Amerika Serikat saat ini berada pada titik terkuat sepanjang sejarah dan berkomitmen untuk terus mengembangkannya demi kepentingan rakyat kedua negara serta stabilitas kawasan.
Artikel Terkait
Netanyahu Klaim Operasi Militer Tekan Iran dan Hezbollah
Pemain Lokal Sumba Timur Warnai Film “Yohanna”, Hadirkan Cerita Autentik dan Pengalaman Perdana Berakting
Film “Yohanna” Angkat Kisah Sumba, Libatkan Talenta Lokal dan Raih Apresiasi Global
Laura Basuki Kenang Syuting “Yohanna”di Sumba Timur: Belajar Banyak dan Sulit Berpisah