Washington, D.C. — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan komitmen pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membangun rantai pasok mineral kritis yang aman, stabil, dan terdiversifikasi melalui kerja sama global. Hal itu disampaikan Vance saat membuka Critical Minerals Ministerial yang dihadiri para menteri, pejabat tinggi, dan perwakilan negara-negara mitra di Washington, Senin waktu setempat.
Dalam pidatonya, Vance menyebut mineral kritis sebagai fondasi nyata ekonomi modern, sejajar dengan minyak dan gas. Ia menekankan bahwa ketergantungan berlebihan pada rantai pasok yang terkonsentrasi telah menciptakan kerentanan serius bagi keamanan ekonomi dan nasional banyak negara.
“Ekonomi digital tetap bergantung pada hal-hal yang nyata. Dan tidak ada yang lebih nyata daripada mineral kritis,” ujar Vance.
Pasar Mineral Dinilai Gagal
Vance menilai pasar global mineral kritis saat ini “gagal” karena harga yang tidak stabil, praktik dumping, serta banjir pasokan yang merusak investasi jangka panjang. Ia mencontohkan banyak proyek tambang dan pengolahan yang batal karena harga anjlok secara tiba-tiba, membuat investor menarik diri.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak luas, baik bagi negara maju maupun negara berkembang yang kaya sumber daya, karena menghambat terciptanya lapangan kerja dan mengancam keamanan pasokan industri strategis, mulai dari pertahanan hingga teknologi canggih.
Usulan Zona Perdagangan Mineral Kritis
Sebagai solusi, pemerintahan Trump mengusulkan pembentukan zona perdagangan preferensial mineral kritis di antara negara-negara sekutu dan mitra. Zona ini akan dilindungi dari gangguan eksternal melalui harga acuan minimum (price floor) yang ditegakkan dengan kebijakan tarif yang dapat disesuaikan.
Langkah tersebut bertujuan menciptakan kepastian harga, mendorong investasi, serta mencegah praktik persaingan tidak sehat yang menekan produsen domestik dan mitra internasional.
“Kita ingin pasar yang memberi imbalan pada perencanaan jangka panjang dan investasi strategis, bukan yang menghukumnya,” tegas Vance.
Investasi Besar dan Cadangan Strategis
Vance juga memaparkan langkah konkret pemerintah AS, termasuk penyediaan hingga US$100 miliarkewenangan pembiayaan untuk mineral kritis, pembangunan smelter baru pertama sejak 1980, serta peluncuran Project Vault, cadangan nasional mineral kritis pertama di AS untuk kebutuhan sipil.
Kebijakan ini, kata Vance, ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi sekaligus memperkuat ketahanan industri Amerika dan mitra-mitranya.
Dukungan Sekutu, Jepang Soroti Urgensi
Menteri Negara Luar Negeri Jepang Hiromasa Hayashi (State Minister for Foreign Affairs) menyambut baik inisiatif AS dan menegaskan bahwa Jepang memandang diversifikasi pasokan mineral kritis sebagai prioritas nasional di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
Jepang, menurutnya, telah menyiapkan anggaran US$3,5 miliar serta memperluas kerja sama hulu dan hilir dengan negara-negara mitra guna memperkuat ketahanan rantai pasok global.
“Tidak ada satu negara pun yang bisa mengatasi kerentanan ini sendirian. Diversitas hanya bisa dicapai lewat aksi kolektif,” ujarnya.
AS Klaim Beralih dari Retorika ke Aksi
Pejabat Dewan Keamanan Nasional AS, David Copley, menegaskan bahwa pemerintahan Trump telah berbalik arah secara drastis dengan menjadikan pertambangan prioritas strategis. AS kini berinvestasi langsung, menimbun mineral, melindungi perusahaan tambang, serta memangkas proses perizinan yang sebelumnya bisa memakan waktu puluhan tahun.
Pertemuan tingkat menteri ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kerja sama multilateral yang lebih konkret dalam membangun rantai pasok mineral kritis yang adil, beragam, dan tangguh.
Artikel Terkait
Dennis Bergkamp, Maestro Abadi Arsenal yang Mengubah Sepak Bola Jadi Seni
Wapres AS JD Vance Kunjungi Armenia, Tandatangani Kerja Sama Nuklir Damai dan Perkuat Kemitraan Strategis
Mengintip Proses Pembuatan Trofi Piala Dunia 2026 Senilai US$20 Juta
FIRST LOVE is Never Returned Rilis Single “WHAT’S UP?” dan Umumkan Tur Dua-Man Perdana