Film terbaru produksi MVP kembali mencuri perhatian lewat kelanjutan kisah Sadali, karakter yang dikenal dengan dialog-dialog puitis namun tajam. Dalam sesi jumpa pers ysai pemutaran khusus, respons penonton terhadap film kedua ini terbilang luar biasa. Banyak yang menilai kata-kata Sadali terasa lebih “maut” dibanding film sebelumnya, sekaligus lebih mengena secara emosional.
Ajil Ditto, pemeran Sadali, mengaku tak menyangka dengan reaksi hangat penonton. “Enggak expect sama sekali responnya. Tadi sampai ‘wow, wow, wow’,” ujarnya. Ia pun berpesan agar penonton tidak terlalu marah pada karakter yang diperankannya. “Sadali itu apa adanya, memang begitu karakter yang diciptakan,” kata Ajil.
Menurut Ajil, Sadali di film kedua digambarkan sebagai sosok yang mencari closure. Namun dari sudut pandangnya secara personal, keputusan Sadali seharusnya bisa diambil jauh lebih awal. “Kalau gue temenan sama Sadali, harusnya dari tiga tahun lalu sudah ngomong. Jangan nunggu sampai tiga tahun baru berani menyelesaikan,” ujarnya. Ia menilai Sadali kerap terjebak dalam pembenaran diri dan enggan mengakui kesalahan.
Meski begitu, Ajil menegaskan bahwa pada akhirnya Sadali menemukan perdamaian dalam dirinya. “Ada titik damai yang akhirnya selesai di hatinya,” tuturnya. Bahkan, ia berseloroh membuka kemungkinan film ketiga jika respons penonton terus positif.
Salah satu dialog yang paling membekas bagi Ajil adalah kalimat yang juga menjadi judul film. “Hidup ini terlalu banyak kamu, dan itu adalah kenyataan yang harus aku terima dari mencintaimu,” katanya. Menurut Ajil, hampir setiap dialog dalam film ini memiliki kekuatan tersendiri.
Sementara itu, Adinia Wirasti yang memerankan karakter Merah menilai keputusan tokohnya sudah tepat. Namun sebagai aktor, ia memilih tidak menghakimi pilihan karakter. “Kami merasakannya saja. Push and pull antara mereka berdua kuat sekali. Benar atau tidaknya keputusan itu, biar penonton yang menilai,” ujarnya.
Faiz, pemeran karakter pendukung, melihat Sadali sebagai tipe teman yang di kehidupan nyata “perlu dikeplak”. Ia menilai karakter tersebut kerap memikat namun juga menyakiti perasaan orang lain. “Kadang kita nge-fans sama tipe teman kayak gitu, tapi juga kesel karena dia mempermainkan perasaan,” katanya.
Dari sisi pengembangan karakter, Ciara mengaku awalnya sempat gugup beradu akting dengan Asti. Namun proses syuting berjalan menyenangkan dan chemistry terbangun secara alami. Hal senada diungkapkan Natalia yang memerankan Latifa, karakter sahabat yang memilih mendukung meski sadar temannya berada di situasi yang salah. “Yang penting sahabatnya bahagia dan bisa closure,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan media soal gaya lukisan Sadali, sutradara Kuntz Agus menjelaskan bahwa visual yang ditampilkan terinspirasi neo-ekspresionisme. Lukisan-lukisan tersebut merupakan terjemahan visual dari kata-kata dan dialog Sadali, menjadikan teks sebagai fondasi utama ekspresi visual film.
Produser menegaskan bahwa film ini telah dipersiapkan selama lebih dari satu tahun dan menawarkan kekuatan dialog sebagai nilai utama di tengah maraknya film horor. “Dialog-dialognya akan melekat, membuat penonton tersenyum, tertawa, dan membawa kesan pulang,” ujarnya.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 5 Februari, dengan harapan menjadi karya yang berkesan bagi penonton dan industri perfilman Indonesia.
Artikel Terkait
Film “Yohanna” Angkat Kisah Sumba, Libatkan Talenta Lokal dan Raih Apresiasi Global
Laura Basuki Kenang Syuting “Yohanna”di Sumba Timur: Belajar Banyak dan Sulit Berpisah
Satgas Damai Cartenz Lumpuhkan DPO KKB Puncak Jaya, Terlibat Serangkaian Aksi Kekerasan Sejak 2019
Astronot NASA Berbagi Pengalaman Dramatis di Perjalanan Menuju Bulan