Washington D.C. — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif bersejarah bertajuk “Great American Recovery Initiative”, sebuah inisiatif nasional untuk memerangi krisis kecanduan narkoba dan alkohol yang masih menjadi masalah serius di Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa penanganan adiksi merupakan salah satu isu terpenting yang dihadapi negaranya saat ini. Ia menyebut kecanduan zat sebagai “wabah besar” yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga keluarga, komunitas, hingga keamanan nasional.
“Hari ini saya menandatangani perintah eksekutif bersejarah untuk melawan wabah kecanduan dan penyalahgunaan zat. Ini masalah besar bagi negara kita,” ujar Trump.
Inisiatif tersebut dipimpin bersama oleh Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) Robert F. Kennedy Jr. dan Penasihat Senior Gedung Putih Katherine Bergam. Program ini akan menyatukan sumber daya pemerintah federal, negara bagian, pemerintah lokal, hingga sektor swasta dalam upaya pencegahan, perawatan, pemulihan, dan reintegrasi sosial bagi para penyintas kecanduan.
Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat kehilangan sekitar 300 ribu jiwa setiap tahun akibat penyalahgunaan narkoba dan alkohol, meski angka kematian akibat overdosis disebut menurun hingga 21 persen dalam setahun terakhir. Ia juga menyoroti langkah pemerintahannya dalam menutup perbatasan selatan, menyita lebih dari 47 juta pil fentanyl dan 10 ribu pon bubuk fentanyl, serta menetapkan kartel narkoba sebagai organisasi teroris asing.
Robert F. Kennedy Jr. menegaskan bahwa kecanduan bukanlah kegagalan moral, melainkan penyakit kronis yang dapat diobati. Menurutnya, selama ini penanganan adiksi di Amerika terlalu terfragmentasi dan sarat stigma.
“Inisiatif ini mengakhiri pendekatan yang terpecah-pecah. Kami menyatukan layanan kesehatan, penegakan hukum, perumahan, ketenagakerjaan, komunitas keagamaan, dan sektor swasta untuk menyelamatkan nyawa dan memulihkan keluarga,” kata Kennedy.
Sementara itu, Katherine Bergam yang juga penyintas kecanduan, menyampaikan bahwa inisiatif ini membawa perubahan mendasar dalam cara negara memandang dan menangani adiksi.
“Addiction bukan cacat karakter. Ini adalah penyakit medis kronis. Dengan pendekatan yang tepat, pemulihan bukan lagi pengecualian, tetapi harapan,” ujarnya.
Program Great American Recovery Initiative akan berfokus pada pencegahan dini, perluasan akses pengobatan berbasis sains, dukungan jangka panjang pascarehabilitasi, serta penghapusan stigma sosial. Pemerintah juga berkomitmen meningkatkan transparansi dengan target terukur dan pelaporan terbuka kepada publik.
Sejumlah pejabat tinggi turut hadir dan memberikan dukungan, termasuk Jaksa Agung Pam Bondi, Direktur NIH, Kepala FDA, serta utusan khusus Steve Witkoff, yang secara emosional mengenang putranya yang meninggal akibat kecanduan.
Trump menutup acara dengan menegaskan bahwa pemulihan dari kecanduan bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga persoalan ekonomi, ketahanan keluarga, dan masa depan bangsa.
“Ketika warga Amerika pulih, komunitas menjadi lebih kuat. Ketika keluarga sembuh, anak-anak bisa tumbuh dengan harapan,” tegas Trump.
Artikel Terkait
Film “Yohanna” Angkat Kisah Sumba, Libatkan Talenta Lokal dan Raih Apresiasi Global
Laura Basuki Kenang Syuting “Yohanna”di Sumba Timur: Belajar Banyak dan Sulit Berpisah
Astronot NASA Berbagi Pengalaman Dramatis di Perjalanan Menuju Bulan
Huawei Pura X2 Muncul dari Aksesori Pihak Ketiga