• Jum'at, 17/04/2026
Harga Tiket Pesawat Domestik Naik hingga 13 Persen, Dampak Lonjakan AFTUR Akibat Gejolak Timur Tengah Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

Serial TV Baru Rayakan Transformasi Militer China, Di Tengah Sorotan Global

- Jum'at, 01/08/2025
Serial TV Baru Rayakan Transformasi Militer China, Di Tengah Sorotan Global
Dok - Al Jazeera

Jakarta, 1 Agustus 2025 — Sebuah serial televisi penuh kilau produksi terbaru China mencuri perhatian publik saat penayangannya diselaraskan dengan peringatan hari jadi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), menandai kebangkitan militer negara itu sebagai simbol kebanggaan nasional. Serial ini bukan hanya hiburan, tetapi juga bagian dari narasi yang menekankan pencapaian militer China yang kini jauh meninggalkan kesan angkatan bersenjata yang dulu dianggap tertinggal dan tak modern.

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, PLA mengalami transformasi signifikan. Dalam beberapa dekade terakhir, modernisasi besar-besaran dilakukan—baik dalam hal teknologi, strategi, maupun postur global. “Reformasi ini baru berlangsung selama beberapa dekade, tetapi kami tumbuh cepat dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju Barat,” ujar salah satu narasumber dalam serial tersebut. “Saya percaya dalam waktu dekat, kami akan melampaui mereka.”

Target ambisius telah ditetapkan: PLA harus siap menjadi tandingan kekuatan militer terkuat dunia, yakni Amerika Serikat, pada ulang tahunnya yang ke-100 tahun 2027. Di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks, kekuatan militer dianggap kunci untuk menjaga martabat dan kedaulatan China. “China tidak bisa lagi tanpa militer yang kuat,” ujar seorang tokoh dalam serial. “Dengan kekuatan militer besar, rakyat China akan memiliki rasa percaya diri nasional yang tinggi.”

Transformasi militer ini terlihat nyata. Meski masih tertinggal dalam jumlah kapal induk—China memiliki dua, sedangkan AS lebih dari 20—militer China kini memiliki angkatan laut terbesar di dunia secara jumlah kapal. Mereka juga tengah mengembangkan teknologi canggih seperti rudal hipersonik. Keberhasilan terbaru, seperti penembakan jatuh pesawat buatan Prancis oleh jet tempur J-10 buatan China dalam konflik udara antara India dan Pakistan di wilayah Kashmir musim panas lalu, mengejutkan para pengamat militer internasional.

Namun, kemajuan ini juga memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara Barat dan tetangga regional Asia. Banyak analis menyebut ekspansi militer ini sebagai potensi ancaman, terutama terkait ambisi Beijing terhadap Taiwan—yang oleh China dianggap sebagai provinsi pembangkang. Beberapa pihak meyakini kekuatan baru PLA bisa membuat China berani mengambil tindakan militer terhadap pulau tersebut.

Tetapi dari perspektif Beijing, ketakutan itu dinilai berlebihan. Narasi ancaman militer China, menurut mereka, banyak didorong oleh media Barat seperti AS dan Eropa. “China tidak memulai perang. Tidak membom negara mana pun. Tidak menyebabkan gelombang pengungsi besar-besaran,” ujar sumber dalam laporan Al Jazeera. “Jadi mengapa disebut sebagai ancaman?”

Dengan latar belakang geopolitik yang kian tegang, serial ini berfungsi ganda—sebagai propaganda lembut yang memperkuat citra PLA di mata publik domestik, sekaligus pesan tegas ke dunia bahwa China tak akan pernah lagi tunduk pada kekuatan asing.

Tags

Artikel Terkait

Terkini