Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

Kunjungan Sergey Lavrov ke Korea Utara Picu Kekhawatiran Soal Kerja Sama Militer Moskow-Pyongyang

- Senin, 14/07/2025
 Kunjungan Sergey Lavrov ke Korea Utara Picu Kekhawatiran Soal Kerja Sama Militer Moskow-Pyongyang
Kim Jong-un, Sambut kedatangan Sergey Lavrov ( Dik CNA )

Moskow — Ketegangan geopolitik di kawasan Eurasia kembali meningkat setelah Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, melakukan kunjungan resmi ke Korea Utara akhir pekan lalu. Dalam pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Pyongyang secara terbuka menyatakan dukungan tak bersyarat terhadap Moskow dalam konflik yang terus berkecamuk di Ukraina.

Pernyataan Kim Jong-un itu menegaskan posisi Korea Utara sebagai sekutu strategis Rusia di tengah isolasi internasional yang semakin ketat. Lavrov menyebut hubungan antara Moskow dan Pyongyang sebagai “persaudaraan tempur yang tak terkalahkan” — sebuah ungkapan yang mengacu pada keterlibatan kedua negara dalam kampanye militer berbulan-bulan di wilayah Kursk, Rusia.

Pasokan Pasukan dan Amunisi ke Rusia

Yang paling memicu kekhawatiran komunitas internasional adalah laporan tentang pengerahan pasukan Korea Utara ke Rusia. Lavrov secara terbuka berterima kasih atas kehadiran personel militer Korea Utara yang dikerahkan untuk membantu Rusia dalam pertempuran di Ukraina timur.

Selain itu, Korea Utara juga dikabarkan akan turut serta dalam proyek rekonstruksi wilayah Kursk yang rusak akibat perang. Langkah ini dinilai sebagai indikasi semakin eratnya hubungan militer dan ekonomi antara kedua negara yang sama-sama berada di bawah sanksi berat dari negara-negara Barat.

Ancaman Transfer Teknologi Nuklir

Isu lain yang menguat adalah kekhawatiran bahwa Moskow mungkin akan membalas dukungan Pyongyang dengan mentransfer teknologi militer canggih, termasuk yang berkaitan dengan pengembangan rudal dan senjata nuklir. Lavrov sendiri dalam kunjungannya menyatakan bahwa Rusia “menghormati dan memahami” alasan Korea Utara mengembangkan program nuklirnya, dan menyebut teknologi tersebut sebagai hasil karya ilmuwan dalam negeri Korea Utara.

Namun, para analis pertahanan menilai pernyataan ini berpotensi menutupi adanya transfer teknologi atau pelatihan militer rahasia dari Rusia ke Korea Utara, yang bisa mempercepat ambisi Pyongyang dalam mengembangkan sistem persenjataan strategis.

Rencana Buka Jalur Maritim

Dalam kunjungan tersebut, Lavrov juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Utara, Soe Son-hi. Keduanya sepakat untuk melanjutkan dialog strategis yang dimulai sejak kunjungan Presiden Vladimir Putin ke Pyongyang tahun lalu. Salah satu agenda yang disepakati adalah rencana untuk membuka kembali jalur maritim antara Rusia dan Korea Utara, meski belum ada waktu pasti yang ditetapkan.

Sejumlah negara Barat dan sekutu di kawasan Asia Timur langsung bereaksi atas pertemuan ini. Washington, Seoul, dan Tokyo menyatakan keprihatinan mendalam atas potensi peningkatan kerja sama militer dan kemungkinan transfer teknologi nuklir antara kedua negara. Pemerintah AS bahkan mengisyaratkan akan mempertimbangkan sanksi tambahan jika terbukti ada pengiriman senjata atau teknologi militer ke Rusia.

Konflik Ukraina dan Kepentingan Strategis

Kunjungan Lavrov ini juga terjadi di tengah upaya Rusia memperluas zona buffer di sepanjang perbatasan Ukraina untuk menahan serangan pasukan Kyiv. Hubungan dengan Korea Utara dinilai sebagai langkah strategis Moskow guna mengatasi embargo internasional dan mengamankan jalur logistik serta tenaga kerja dalam mendukung perang berkepanjangan di Ukraina.

Tags

Artikel Terkait

Terkini