• Jum'at, 15/05/2026

Wabah Meningitis Mengancam Gaza di Tengah Blokade Israel dan Krisis Kemanusiaan

- Senin, 14/07/2025
 Wabah Meningitis Mengancam Gaza di Tengah Blokade Israel dan Krisis Kemanusiaan
Gaza ( dok A Jazeera )

Gaza, Palestina — Di tengah gempuran perang dan blokade ketat Israel yang telah menghancurkan sistem layanan kesehatan di Gaza, ancaman wabah penyakit menular kini meningkat pesat. Salah satu yang paling mematikan adalah meningitis, penyakit peradangan pada selaput pelindung otak dan sumsum tulang belakang, yang kini mulai merebak di tempat-tempat pengungsian yang penuh sesak dan minim sanitasi.

Menurut laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rusaknya fasilitas kesehatan dan berhentinya kampanye vaksinasi telah memperburuk situasi. Kondisi di pengungsian-pengungsian sementara yang padat, tanpa akses air bersih dan layanan kesehatan memadai, menjadi lahan subur bagi penyebaran penyakit berbahaya ini.

“Biasanya memang ada peningkatan kasus meningitis pada bulan-bulan ini, tetapi kali ini situasinya jauh lebih buruk,” ungkap seorang pejabat WHO yang diwawancarai Al Jazeera. “Overcrowding, buruknya sanitasi, dan gangguan pelayanan kesehatan rutin membuat risiko meningitis meningkat tajam.”

Lebih dari 500 Kasus Tercatat, Anak-Anak Paling Rentan

Sejauh ini, lebih dari 500 kasus meningitis telah tercatat di Jalur Gaza. Dari jumlah itu, lebih dari 40 kasus diidentifikasi sebagai meningitis bakteri yang jauh lebih berbahaya, bisa menyebabkan kerusakan otak permanen, gangguan pendengaran, kelumpuhan, bahkan kematian bila tidak segera ditangani.

Dr. Kamis Elasi, seorang spesialis rehabilitasi saraf dan nyeri yang telah hampir dua tahun menjadi relawan di Gaza, mengungkapkan betapa sulitnya kondisi di lapangan. “Kapasitas rumah sakit di sini sudah kolaps. Dari 36 rumah sakit, hanya tujuh yang masih beroperasi sebagian, dan itu pun sudah kelebihan beban tiga kali lipat,” jelasnya.

Menurutnya, meningitis bakteri harus ditangani dengan antibiotik kuat yang diberikan secara intravena di fasilitas medis, namun stok obat vital seperti vancomycin dan ceftriaxone hampir habis. “Kami terpaksa memilih pasien mana yang berpeluang selamat untuk diprioritaskan,” tambahnya getir.

Overcrowding dan Krisis Air Bersih Picu Ancaman Pandemi

Kondisi pengungsian yang sangat padat—dengan lebih dari 50.000 orang tinggal dalam tiap kilometer persegi—memicu kekhawatiran akan potensi wabah penyakit yang lebih luas. “Ketika 2,2 juta penduduk dipaksa berkumpul di area kurang dari 40 kilometer persegi tanpa air bersih dan sanitasi, ini resep sempurna untuk pandemi,” ujar Dr. Elasi.

Selain meningitis, berbagai penyakit tular air seperti diare akut, kolera, dan infeksi saluran pernapasan kini juga mulai meningkat. Sistem sanitasi yang lumpuh sepenuhnya menyebabkan limbah mencemari air tanah dan mempercepat penyebaran penyakit.

Harga Konflik yang Tak Terlihat

Di tengah perundingan gencatan senjata dan upaya pembebasan sandera, ribuan anak-anak Gaza kini menghadapi ancaman kematian senyap melalui penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Seperti kisah seorang ibu yang membawa anaknya ke rumah sakit tengah malam setelah demam tinggi dan kejang-kejang. Sang anak dinyatakan meningitis, kini kondisinya diperparah oleh malnutrisi berat.

“Anak-anak ini bukan hanya korban konflik bersenjata, tapi juga korban dari sistem kesehatan yang dihancurkan,” ujar reporter Al Jazeera, Tara Kabun, dari Gaza.

Desakan Buka Akses Bantuan Kemanusiaan

Para dokter dan lembaga kemanusiaan mendesak dibukanya perbatasan untuk mengirimkan obat-obatan, air bersih, makanan bergizi, serta alat medis penting ke Gaza. Tanpa itu, bukan hanya wabah meningitis yang mengancam, tetapi potensi bencana kesehatan publik skala besar di kawasan paling padat di dunia ini.

“Solusi sesungguhnya adalah hentikan perang, buka akses kemanusiaan, dan izinkan warga kembali ke rumah mereka agar kepadatan pengungsian berkurang,” pungkas Dr. Elasi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini