Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi ke fasilitas nuklir Iran, termasuk kompleks pengayaan uranium di Natanz Nuclear Facility. Serangan terbaru yang terjadi pada 21 Maret 2026 disebut sebagai bagian dari operasi militer yang lebih luas untuk melumpuhkan kemampuan nuklir Iran.
Dalam operasi tersebut, militer Amerika Serikat menggunakan pesawat siluman B-2 Spirit yang menjatuhkan bom penghancur bunker berbobot besar ke target bawah tanah. Serangan ini diklaim menargetkan jalur akses utama seperti terowongan, ventilasi, dan jalur logistik fasilitas, bukan langsung menghancurkan ruang inti pengayaan.
Sebelumnya, Israel juga dilaporkan telah lebih dulu menyerang bagian fasilitas yang sama dengan amunisi penetrasi tinggi, sehingga memperlemah struktur sebelum dihantam gelombang serangan berikutnya oleh AS. Kombinasi dua serangan ini membuat sebagian besar akses menuju instalasi bawah tanah menjadi tidak dapat digunakan.
Menurut berbagai laporan, fasilitas Natanz berada pada kedalaman 40 hingga 50 meter di bawah tanah dan dilindungi beton tebal. Kompleks ini memiliki kapasitas hingga puluhan ribu sentrifugal untuk pengayaan uranium. Meski struktur utama disebut masih utuh, kerusakan pada pintu masuk dan sistem ventilasi membuat operasional fasilitas terhenti.
International Atomic Energy Agency menyatakan belum menemukan adanya kebocoran radiasi signifikan. Namun, lembaga tersebut mengakui keterbatasan akses langsung ke lokasi karena jalur masuk yang hancur, sehingga verifikasi masih mengandalkan pemantauan jarak jauh.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran terkait potensi risiko lain, seperti kebocoran gas beracun uranium hexafluoride (UF6) di ruang tertutup, serta kemungkinan dampak lingkungan jangka panjang jika material nuklir tidak terkendali. Selain itu, spekulasi juga berkembang mengenai kemungkinan adanya personel yang terjebak di dalam kompleks bawah tanah saat serangan terjadi, meski belum ada konfirmasi resmi.
Iran menegaskan bahwa tidak terjadi kebocoran radiasi dan menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional. Sementara itu, Rusia mengkritik aksi militer tersebut, namun belum menunjukkan langkah konkret selain pernyataan diplomatik.
Situasi semakin memanas setelah Donald Trump dilaporkan memberikan ultimatum terkait keamanan jalur energi di Selat Hormuz. Iran merespons dengan ancaman balasan terhadap infrastruktur vital milik AS dan sekutunya di kawasan Teluk.
Pengamat menilai, fase terbaru konflik ini tidak lagi sekadar menyasar target militer, tetapi mulai mengarah pada infrastruktur strategis seperti energi dan fasilitas nuklir. Meski serangan dapat merusak fasilitas fisik, para analis menekankan bahwa pengetahuan dan kemampuan teknis program nuklir Iran tetap sulit untuk dihancurkan sepenuhnya.
Dengan eskalasi yang terus meningkat, dunia internasional kini menyoroti potensi dampak lebih luas, baik dari sisi keamanan regional maupun risiko lingkungan yang dapat berlangsung dalam jangka panjang.