WASHINGTON – Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya terhadap Iran dengan mengerahkan pesawat pengebom strategis Boeing B-52 Stratofortress dalam rangkaian serangan terbaru di kawasan Timur Tengah.
Pesawat yang dijuluki “doomsday bomber” tersebut mampu membawa hingga 70.000 pon persenjataan, termasuk rudal jelajah, bom penghancur bunker seberat 30.000 pon, hingga senjata nuklir. Ini menjadi pertama kalinya B-52 dikerahkan sejak konflik terbaru dengan Iran dimulai.
Pejabat militer Amerika Serikat menyatakan hari tersebut menjadi salah satu hari dengan serangan paling intens terhadap target di Iran.
Ribuan Target Diserang
Menurut militer AS, lebih dari 5.000 target di berbagai wilayah Iran telah dihantam sejak operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury dimulai.
Serangan difokuskan pada:
• peluncur rudal balistik
• pangkalan drone
• fasilitas militer
• infrastruktur angkatan laut
Militer AS mengklaim serangan tersebut berhasil melemahkan kemampuan Iran secara signifikan.
Data yang disampaikan Pentagon menunjukkan peluncuran rudal Iran menurun drastis dari sekitar 420 per hari pada awal konflik menjadi sekitar 45 peluncuran per hari saat ini.
Ketegangan di Selat Hormuz
Ketegangan juga meningkat di sekitar Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Pemerintah AS memperingatkan Iran agar tidak mengganggu jalur pelayaran tersebut. Jika Iran mencoba menghentikan aliran minyak atau barang di selat itu, Washington mengancam akan merespons dengan kekuatan militer yang jauh lebih besar.
Militer AS juga dilaporkan telah menghancurkan 16 kapal penebar ranjau milik Iran sebelum kapal-kapal tersebut meninggalkan pelabuhan.
Tekanan Ekonomi dan Pasar Energi
Ancaman terhadap Selat Hormuz sempat mengguncang pasar energi global. Namun harga minyak mulai stabil kembali setelah kekhawatiran gangguan pasokan mereda.
Harga minyak dunia tercatat turun sekitar 9 persen hingga berada di kisaran 86 dolar per barel, setelah sebelumnya melonjak tajam akibat eskalasi konflik.
Beberapa negara produsen minyak juga mulai menyiapkan jalur alternatif distribusi energi. Salah satunya Arab Saudi yang meningkatkan pengiriman minyak melalui jaringan pipa menuju Laut Merah.
Perdebatan di Dalam Negeri AS
Di Amerika Serikat, operasi militer ini memicu perdebatan politik. Pemerintahan Presiden Donald Trumpmenyatakan operasi tersebut bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir serta menghancurkan kemampuan militernya.
Namun sejumlah politisi oposisi menilai hasil operasi militer tersebut belum jelas dan berpotensi memperpanjang konflik di kawasan.
Sementara itu, pejabat militer AS menyatakan mereka telah memperoleh keunggulan udara penuhdan menegaskan bahwa operasi akan terus berlanjut hingga tujuan strategis tercapai.( Fox News )