Dubai – Konflik antara Israel dan Iran memasuki hari ketujuh dengan intensitas serangan yang semakin meningkat serta dampak yang mulai meluas ke kawasan Timur Tengah dan ekonomi global.
Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan telah menghantam sekitar 400 target di wilayah Iran dalam satu hari terakhir. Sementara itu, laporan dari Iranian Red Crescent Societymenyebutkan lebih dari seribu orang dilaporkan tewas sejak konflik meletus.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perang hanya akan berakhir jika Iran menyerah tanpa syarat. Namun pemerintah di Teheran menegaskan akan terus melawan dan melancarkan serangan balasan, termasuk serangan rudal ke wilayah Israel.
Sekretaris Jenderal United Nations, António Guterres, mengecam kekerasan yang terjadi dan menyerukan penghentian segera pertempuran.
Di lapangan, ledakan besar dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Tehran. Warga setempat menggambarkan malam terakhir sebagai yang paling intens sejak perang dimulai, dengan suara jet tempur dan ledakan berlangsung sepanjang malam.
Militer Israel juga merilis rekaman serangan yang melibatkan sekitar 50 jet tempur yang menargetkan bunker komando militer Iran di pusat Tehran. Serangan-serangan tersebut disebut sebagai bagian dari fase baru operasi militer terhadap Iran.
Di sisi lain, serangan balasan Iran juga terus berlanjut. Sebuah gedung permukiman di pinggiran Tel Aviv dilaporkan terkena dampak serangan, menyebabkan sejumlah warga terluka. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan meninjau langsung lokasi serangan sebelumnya di wilayah selatan negara tersebut.
Konflik ini juga melibatkan negara-negara kawasan Teluk. Di United Arab Emirates, sistem pertahanan udara dilaporkan berhasil mencegat sembilan rudal balistik dan lebih dari 100 drone yang diluncurkan Iran. Serangan drone juga dilaporkan terjadi di Bahrain dan Kuwait, bahkan menyebabkan puluhan personel militer terluka.
Situasi keamanan juga meningkat di Doha, ibu kota Qatar, setelah pangkalan militer AS terbesar di kawasan tersebut, Al Udeid Air Base, menjadi sasaran serangan Iran.
Selain dampak militer, perang ini mulai memicu kekhawatiran terhadap ekonomi global. Menteri Energi Qatar memperingatkan bahwa ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk berpotensi terhenti dalam beberapa minggu jika konflik terus berlanjut.
Kekhawatiran terbesar terletak pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama distribusi energi dunia. Gangguan di jalur tersebut telah menyebabkan harga minyak dunia melonjak hingga sekitar 90 dolar AS per barel, dengan potensi naik hingga 150 dolar AS jika situasi semakin memburuk.
Konflik juga meluas ke front lain di kawasan. Israel meningkatkan serangan terhadap posisi kelompok Hezbollah di Beirut, Lebanon, yang menurut otoritas setempat telah menewaskan sedikitnya sembilan orang dan memicu gelombang pengungsian besar.
Diperkirakan lebih dari 300.000 warga Lebanon kini mengungsi akibat serangan yang terus berlangsung, sementara militer Israel dilaporkan mulai membangun kekuatan militer lebih besar di sepanjang perbatasan Lebanon.
Dengan eskalasi yang terus meningkat dan keterlibatan berbagai pihak di kawasan, para pengamat menilai konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas jika tidak segera dihentikan.( BBC )