Managing Director Bucie Lee dari LEE Management mengungkapkan bahwa aksi sosial yang dilakukan bersama berbagai pihak berawal dari kunjungan ke wilayah Nusa Tenggara Timur pada awal 2025. Kunjungan tersebut membuka mata banyak pihak mengenai kompleksnya persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait pendidikan dan akses air bersih.
Menurut Bucie Lee, saat itu timnya berangkat dengan visi yang sama bersama mitra dari Plan International Indonesia untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Mereka mengunjungi sejumlah sekolah serta desa di wilayah tersebut.
“Sesampainya di sana saya baru tahu bahwa persoalannya cukup kompleks. Bukan hanya soal pendidikan, tapi juga akses air bersih. Di sana ada sekitar 230 desa yang belum memiliki akses air,” ujarnya.
Ia menceritakan pengalamannya saat mencoba mengambil air dari sumber air milik warga yang berjarak sekitar dua kilometer dari permukiman. Perjalanan berliku dan melelahkan harus ditempuh hanya untuk sekali mengambil air, sementara kualitas air yang didapat pun belum sepenuhnya bersih.
Pengalaman tersebut semakin membekas ketika ia melihat para ibu masih mengambil air pada pukul 21.00 malam, bahkan sambil membawa anak kecil. Momen itu membuatnya merasa harus kembali dan melakukan sesuatu yang lebih nyata bagi masyarakat di sana.
Setelah kembali ke Jakarta, Bucie Lee kemudian berdiskusi dengan sejumlah klien dan mitra untuk mewujudkan program sosial yang lebih besar. Ia mengajukan gagasan untuk kembali ke NTT dengan melibatkan lebih banyak pihak.
Inisiatif tersebut akhirnya mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk ZAP Clinic dan perusahaan teknologi ZF Technology yang turut mendukung program tersebut.
“Alhamdulillah rencana ini berjalan lancar dan kami bisa menghubungkan klien dengan ZF. Terima kasih atas kepercayaannya sehingga akhirnya kami bisa membantu renovasi dua sekolah,” katanya.
Program sosial ini juga menjadi bagian dari perayaan satu dekade perjalanan ZAP Clinic yang dikemas melalui kegiatan bertajuk “Ramadan for A Brighter Change: Aksi Kebaikan untuk Indonesia Timur. Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas industri yang melibatkan sektor sosial, publik figur, serta industri kecantikan untuk menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.
Urgensi program ini terlihat dari data Kementerian Pendidikan yang mencatat bahwa Nusa Tenggara Timur memiliki persentase sekolah rusak tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 29,93 persen. Di beberapa daerah, ruang kelas masih berdinding kayu sederhana, beratap bocor, hingga berlantaikan tanah, kondisi yang tentu tidak mendukung proses belajar yang aman dan layak.
Melihat kondisi tersebut, ZAP Clinic bersama Plan Indonesia dan LEE Management menggelar kegiatan volunteer trip di Kabupaten Manggarai, NTT pada 3–4 Februari 2026. Kegiatan ini meliputi renovasi ruang kelas, pembangunan fasilitas sanitasi ramah anak perempuan, serta edukasi kesehatan dan air bersih bagi siswa, guru, dan orang tua.
Sejumlah figur publik juga turut terlibat dalam kegiatan ini, di antaranya Joe Taslim, Wulan Guritno, Winky Wiryawan, Kenes Andari, Shalom Razade, Gerin Nathanael, serta Ida Rhijnsberger.
Brand Ambassador ZAP, Wulan Guritno, menyampaikan bahwa keterlibatannya dalam kegiatan ini sangat personal. Sebagai seorang ibu dan perempuan yang berkarier, ia berharap lebih banyak anak perempuan di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Ketika kita memastikan mereka memiliki akses belajar yang aman dan layak, kita sebenarnya sedang membangun masa depan yang lebih setara,” ujarnya.