WASHINGTON — Anggota DPR Amerika Serikat dari Partai Republik, Brian Mast, menyampaikan pembelaan tegas terhadap langkah Presiden Donald Trump dalam melancarkan operasi militer terbatas terhadap Iran. Dalam pernyataan emosionalnya, Mast mengawali dengan mengenang para prajurit AS yang gugur dalam tugas.
Ia menggambarkan suasana pemakaman militer, dentuman 21 kali tembakan penghormatan, dan momen keluarga menerima bendera lipat sebagai pengalaman yang “menghancurkan hati”.
“Ketika kita memikirkan bunyi terompet dan melihat keluarga menerima bendera, itu bisa membawa kita pada air mata,” ujarnya.
Klaim Ancaman Iran Bertahun-tahun
Mast menegaskan bahwa ancaman Iran terhadap Amerika Serikat telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia mengutip berbagai pemungutan suara di Kongres yang, menurutnya, hampir bulat menyatakan Iran sebagai sponsor utama terorisme serta ancaman serius bagi keamanan nasional AS.
Ia juga menyinggung penetapan Islamic Revolutionary Guard Corps sebagai organisasi teroris, serta kecaman terhadap program nuklir Iran yang dinilai berpotensi membahayakan Amerika dan sekutunya.
“Pemungutan suara itu hampir bulat bukan tanpa alasan. Itu mencerminkan kesimpulan bersama bahwa Iran adalah ancaman nyata dan mendesak,” tegas Mast.
Rangkaian Serangan terhadap Pasukan AS
Dalam pernyataannya, Mast menyebut sejumlah insiden yang menurutnya menjadi bukti ancaman langsung, termasuk tewasnya tiga prajurit AS di Tower 22 sekitar satu setengah tahun lalu, serangan terhadap pangkalan AS di Suriah dan Irak, serta serangan drone terhadap kapal dagang dan kapal militer AS di Laut Merah.
Ia menyebut ancaman tersebut sebagai sesuatu yang “terus berulang” dan menilai respons militer diperlukan untuk menghentikannya.
Soal Otoritas Presiden
Menanggapi kritik dari sejumlah anggota Partai Demokrat, Mast menyatakan Presiden Trump memiliki kewenangan berdasarkan Pasal II Konstitusi AS serta War Powers Resolution untuk melaksanakan operasi militer terbatas tersebut.
Menurutnya, cakupan operasi difokuskan pada penghancuran perangkat militer Iran yang digunakan atau berpotensi digunakan untuk menyerang pasukan dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
“Kita tidak menginginkan perang. Tidak ada yang ingin melihat prajurit kita dalam bahaya. Tetapi Iran telah membuktikan bahwa tanpa tindakan tegas, serangan itu akan terus terjadi,” ujarnya.
Singgung Kematian Qasem Soleimani
Mast juga menyinggung operasi sebelumnya yang menewaskan Qasem Soleimani, dan menyebut langkah terbaru ini sebagai bagian dari upaya menghentikan ancaman yang menurutnya telah merenggut banyak nyawa prajurit AS.
Ia menutup pernyataannya dengan mengucapkan terima kasih kepada Presiden Trump atas apa yang disebutnya sebagai komitmen untuk mengakhiri ancaman tersebut.
Pernyataan Mast menambah intensitas perdebatan di Washington terkait kebijakan luar negeri dan risiko eskalasi konflik di Timur Tengah, di tengah kekhawatiran sejumlah pihak atas potensi dampak jangka panjang dari operasi militer tersebut.