Laga final sengit tersaji saat Alejandro Tabilo berhadapan dengan Tomás Martín Etcheverry di turnamen ATP Rio. Pertandingan berlangsung dramatis dengan reli panjang, drop shot cerdik, hingga momen-momen menegangkan yang membuat penonton terpaku.
Tabilo membuka pertandingan dengan solid dan berhasil mengamankan set pertama setelah memanfaatkan sejumlah kesalahan sendiri (unforced errors) dari Etcheverry. Double fault di momen krusial membuat petenis Argentina itu harus rela kehilangan momentum di set pembuka.
Namun Etcheverry tak menyerah. Ia perlahan menemukan ritme permainan, memaksa reli-reli panjang yang menguras stamina lawan. Beberapa kali ia harus berlari mengejar drop shot Tabilo, tetapi mampu membalas dengan pukulan tajam yang mendarat tipis di garis lapangan.
Memasuki set penentuan, duel semakin memanas. Tie-break berlangsung ketat dengan kedua pemain saling menekan dan berharap lawan melakukan kesalahan lebih dulu. Salah satu poin terpanjang di final terjadi di fase ini, memperlihatkan daya juang luar biasa dari keduanya.
Etcheverry menunjukkan mental baja. Meski sebelumnya kehilangan set pembuka, ia kembali bangkit—seperti yang juga ia lakukan di semifinal. Bahkan pada hari yang sama, ia harus memainkan semifinal dan final dalam kondisi cuaca panas ekstrem di Rio, dengan total waktu bermain mendekati lima hingga enam jam. Di semifinal, pertandingan sempat tertunda dan memaksanya keluar lapangan selama sekitar dua jam sebelum kembali melanjutkan laga.
Pada akhirnya, usaha keras itu terbayar lunas. Dengan pukulan penentu yang tak mampu dikembalikan Tabilo, Etcheverry memastikan kemenangan dan meraih gelar ATP Tour pertamanya—sebuah titel besar di Rio.
Hari yang panjang, pekan yang melelahkan, tetapi menjadi momen bersejarah bagi Tomás Martín Etcheverry. Sang petenis Argentina membuktikan bahwa daya tahan fisik dan mental adalah kunci menuju tangga juara.