Pentolan Ahmad Dhani bersama promotor Malaysia Iman Tang membeberkan sejumlah kejutan untuk konser Dewa 19 yang akan digelar 6 Juni 2026 mendatang. Dalam suasana santai dan penuh canda, keduanya membahas konsep venue, kualitas tata suara, hingga kemungkinan kolaborasi lintas band.
Dhani sempat berseloroh soal “home country” keduanya. “Home tetap Garut,” ujarnya sambil tertawa, menanggapi kemungkinan dirinya semakin sering tampil di Malaysia.
Pilih Axiata Arena karena Infrastruktur dan Kenyamanan
Konser kali ini kembali digelar di Axiata Arena. Menurut Iman Tang, pemilihan venue bukan tanpa alasan.
“Kita lihat dari kapasitas dan infrastruktur. Sound itu penting. Memang waktu sound check kosong terasa beda, tapi begitu penuh fans, hasilnya perfect,” jelasnya.
Dhani menambahkan, Axiata Arena unggul dari sisi kenyamanan penonton—baik yang ingin duduk maupun berdiri—serta fasilitas backstage yang kedap suara, area parkir, dan akses menuju venue yang tertata baik.
Jika tiket terjual habis, tak menutup kemungkinan akan ada penambahan hari. “Kita percaya pada numbers. Kalau demand tinggi, insyaAllah bisa tambah,” ujar Iman.
Harga tiket direncanakan berada di kisaran 200 hingga 400 ringgit Malaysia, yang disebut masih dalam kategori “mampu milik”.
Dress Code: Kaos Band Original dan Rare
Berbeda dari konser orkestra sebelumnya yang mengusung tema setelan jas, kali ini Dhani menetapkan dress code unik. Penonton diminta mengenakan kaos original Dewa 19 atau Sobat Padi—bahkan semakin lama dan langka, semakin keren.
“Bayangkan satu stadion pakai kaos band original. Terekam kamera, itu keren banget,” kata Dhani.
Aransemen Lebih Modern, Tapi Tempo Tetap Asli
Dhani juga mengungkapkan bahwa Dewa 19 telah merekam ulang sekitar 20–25 lagu hits dengan tambahan string dan orkestra besar. Lagu-lagu lama yang dulunya tanpa string kini telah diperkaya, bahkan jika tanpa orkestra live tetap dimasukkan dalam sequencer.
Namun satu hal yang tidak berubah adalah tempo dan dasar aransemen.
“Tempo lagu ‘Kangen’ dulu 65, sekarang tetap 65. Tidak berubah. Intro gitar aslinya tetap kita pakai sebagai elemen nostalgia,” jelas Dhani.
Ia menekankan bahwa perbaikan lebih difokuskan pada kualitas sound dan teknologi panggung tanpa menghilangkan ruh asli lagu. Perpaduan nostalgia dan sentuhan modern menjadi strategi utama band.
Peluang Kolaborasi dengan Padi?
Menariknya, Dhani membuka peluang kolaborasi silang dengan Padi. Ide yang mengemuka adalah Dewa 19 membawakan lagu Padi, dan sebaliknya.
“Saya bayangkan ‘Sesuatu yang Indah’ kalau saya interpretasi ulang mungkin jadi ‘Sesuatu yang Lebih Indah’,” ujarnya berseloroh.
Konsep pertukaran gitaris pun sempat dilontarkan: Andra memainkan lagu Padi, sementara gitaris Padi memainkan lagu Dewa 19.
Sejarah Dewa 19 di Malaysia
Dhani juga meluruskan soal sejarah popularitas Dewa di Malaysia. Ia menjelaskan bahwa band mulai dikenal luas di Negeri Jiran pada tahun 2000 lewat album Bintang Lima.
“Waktu era Ari Lasso dulu, kita belum sempat promosi di Malaysia. Justru formasi album Bintang Lima yang memperkenalkan Dewa di sini,” jelasnya.
Ia mengakui peran besar personel saat itu dalam membuka pasar Malaysia, sehingga hingga kini wajah formasi tersebut masih lekat di ingatan penggemar.
Soal Once dan Dinamika Internal
Terkait absennya Once dalam konser ini, Dhani menyebut persoalan tersebut lebih pada aspek teknis dan belum ada pembicaraan lanjutan. Ia menegaskan tak ingin polemik dipelintir menjadi persoalan pribadi.
Konser 6 Juni 2026 nanti dijanjikan akan lebih matang dari segi konsep maupun repertoar. Bahkan, kemungkinan kejutan seperti format drum unik hingga kolaborasi spontan masih terbuka.
“Supaya tidak jadi konser yang biasa,” tutup Dhani.
Dengan konsep nostalgia yang diperbarui teknologi modern, plus kemungkinan kolaborasi lintas band, konser Dewa 19 di Malaysia kali ini dipastikan bukan sekadar pertunjukan musik—melainkan perayaan sejarah panjang rock Indonesia di Negeri Jiran.