Pekan ini menandai empat tahun sejak pasukan Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, memicu konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Dalam wawancara khusus dengan BBC, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa kemenangan tetap menjadi tujuan negaranya—meski diakuinya, jalan menuju ke sana masih panjang dan penuh pengorbanan.
“Apakah kami akan kalah? Tentu tidak. Kami berjuang untuk kemerdekaan Ukraina,” kata Zelenskyy dalam wawancara tersebut.
Garis Depan yang Membeku
Sejak invasi dimulai, Rusia telah menguasai sejumlah wilayah di timur dan selatan Ukraina. Moskow sebelumnya juga telah mencaplok Krimea pada 2014. Pada tahun pertama perang, pasukan Rusia sempat bergerak cepat. Namun, Ukraina berhasil merebut kembali sebagian wilayahnya.
Sejak itu, garis depan relatif stagnan. Pertempuran terus berlangsung, terutama di kawasan Donbass dan Donetsk, tanpa perubahan teritorial signifikan dalam dua tahun terakhir.
Di kota Lviv, Ukraina barat, pemakaman militer kini tak lagi memiliki ruang untuk korban baru. Pemerintah Ukraina menyebut sekitar 55.000 tentaranya tewas—angka yang diyakini masih di bawah jumlah sebenarnya karena hanya menghitung jenazah yang berhasil diidentifikasi dan dipulangkan.
Target Perbatasan 1991
Zelenskyy menegaskan bahwa kemenangan sejati adalah kembali ke perbatasan internasional Ukraina seperti tahun 1991, sebelum aneksasi Krimea.
“Untuk mengembalikan semuanya hari ini dengan paksa berarti kehilangan jutaan orang. Tanah tanpa rakyat bukan apa-apa,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Ukraina masih bergantung pada dukungan senjata dari mitra Barat.
Ketika ditanya apakah Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayah Donetsk demi gencatan senjata musim panas ini—sebagaimana disebut dalam rencana perdamaian yang didukung AS—Zelenskyy menolak keras.
“Ini bukan sekadar soal tanah. Ini soal meninggalkan ratusan ribu warga kami. Itu akan memecah masyarakat,” tegasnya.
Ketegangan dengan AS dan Rusia
Hubungan Kyiv dengan Washington juga menjadi sorotan. Zelenskyy mengakui adanya perbedaan pandangan dengan mantan Presiden AS Donald Trump, yang pernah menyebut Ukraina tidak bisa memenangkan perang dan bahkan melontarkan tudingan bahwa Zelenskyy adalah “diktator”.
“Saya bukan diktator dan saya tidak memulai perang,” jawabnya tegas.
Zelenskyy juga menyatakan bahwa menurutnya Presiden Rusia Vladimir Putin telah memulai bentuk perang dunia ketiga secara de facto.
“Putin sudah memulainya. Pertanyaannya sekarang adalah seberapa jauh ia akan melangkah dan bagaimana kita menghentikannya,” kata Zelenskyy.
Ia menekankan pentingnya jaminan keamanan jangka panjang dari Amerika Serikat, bukan hanya komitmen personal presiden yang bisa berubah setiap periode pemerintahan.
Perang Belum Dekat Berakhir
Di wilayah timur Ukraina, jalan menuju zona perang kini dipasangi jaring untuk menahan drone peledak—yang menjadi senjata paling mematikan di kedua pihak.
Laporan dari editor internasional BBC, Jeremy Bowen, menyebut tidak ada tanda-tanda bahwa Ukraina akan runtuh dalam waktu dekat. Namun, tidak ada pula indikasi bahwa perang akan segera berakhir.
Empat tahun setelah invasi dimulai, konflik ini tetap menjadi ujian ketahanan Ukraina—baik secara militer, politik, maupun sosial. Dan seperti ditegaskan Zelenskyy, hasil akhirnya mungkin bukan soal cepat atau lambat, melainkan soal siapa yang mampu bertahan lebih lama.