Washington, D.C. — Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump kembali menegaskan pentingnya peran iman dan kebebasan beragama dalam kehidupan berbangsa saat menghadiri National Prayer Breakfast. Dalam acara yang dihadiri pemimpin lintas agama dan pejabat dari lebih 110 negara itu, Trump menyatakan bahwa agama bukan ancaman bagi demokrasi, melainkan fondasi utama kebebasan.
Acara dibuka oleh Pastor Paula White, Penasihat Senior Kantor Keimanan Gedung Putih, yang menyampaikan kesaksian panjang tentang kedekatannya dengan Trump selama lebih dari 25 tahun. Ia menilai Trump sebagai pemimpin yang tidak hanya berbicara soal iman, tetapi juga bertindak nyata dalam melindungi dan mengangkat kebebasan beragama ke level tertinggi dalam sejarah Amerika.
“Tidak ada presiden modern yang telah melakukan lebih banyak langkah struktural dan substansial untuk melindungi kebebasan beragama selain Presiden Trump,” ujar Paula White. Ia juga menyoroti pembentukan White House Faith Office, yang disebutnya sebagai tonggak bersejarah karena menempatkan peran umat beragama langsung di jantung pemerintahan, yakni West Wing Gedung Putih.
Dalam pidatonya, Trump menyampaikan apresiasi kepada para pemimpin agama, anggota Kongres, dan pejabat pemerintahan yang hadir. Ia juga mengenang pengalamannya menghadiri National Prayer Breakfast di tengah jadwal kenegaraan yang padat, bahkan usai perjalanan luar negeri yang melelahkan.
“Iman itu penting. Doa itu penting. Kepemimpinan terbaik adalah kepemimpinan yang bertanggung jawab, bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada Tuhan,” kata Trump.
Presiden Trump mengklaim pemerintahannya telah mengambil berbagai kebijakan besar untuk melindungi nilai-nilai keagamaan, mulai dari pencabutan pembatasan bagi pemuka agama untuk berbicara di ruang publik, pemulihan hak prajurit yang diberhentikan karena keberatan agama, hingga pembentukan Presidential Commission on Religious Liberty.
Ia juga menyinggung peningkatan signifikan partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan. Menurut Trump, penjualan Alkitab di Amerika Serikat pada 2025 menjadi yang tertinggi dalam 100 tahun terakhir, sementara tingkat kehadiran generasi muda di gereja hampir dua kali lipat dibandingkan empat tahun sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut, Trump mengumumkan rencana besar pada 17 Mei 2026, yakni mengundang masyarakat Amerika berkumpul di National Mall untuk berdoa dan “mendedikasikan kembali Amerika sebagai satu bangsa di bawah Tuhan”.
“Negara yang hebat tidak bisa berdiri tanpa iman. Kita harus percaya bahwa ada tujuan lebih besar dari apa yang kita lakukan,” tegas Trump.
Menutup pidatonya, Trump menyatakan komitmennya untuk terus membela kebebasan beragama, melindungi umat beriman dari diskriminasi, serta memastikan Amerika tetap menjadi negara yang menjunjung tinggi hak untuk beribadah, berbicara, dan hidup sesuai dengan hati nurani.