JAKARTA — Sutradara Kuntz Agus mengungkap proses kreatif di balik film Sadali produksi MVP Pictures, khususnya terkait kekuatan kata dan emosi yang menjadi fondasi utama ceritanya. Hal tersebut disampaikan Kunto Agus dalam jumpa pers usai pemutaran perdana (prescreening) film Sadalidi Epicentrum, Jakarta Selatan, Jumat malam (30/1).
Dalam sesi tanya jawab bersama para pemeran utama—Ajil Ditto (Sadali), Adinia Wirasti (Mera), dan Hanggini (Arnaza)—Kuntz Agus menjelaskan bahwa banyak referensi visual dan naratif yang ia gunakan terinspirasi dari karya-karya Jepang, terutama buku-buku yang kaya akan kata-kata puitis, dialog, pemikiran, serta pesan mendalam.
“Banyak referensi yang saya gunakan berasal dari buku-buku Jepang. Isinya bukan sekadar cerita, tetapi juga dialog, pemikiran, dan pesan. Tantangannya adalah bagaimana keindahan dan emosi dari kata-kata itu diterjemahkan ke dalam bentuk visual, lalu mengalir dan dirasakan oleh penonton,” ujar Kuntz Agus.
Menurutnya, proses adaptasi dari teks ke visual tidak hanya soal gambar, melainkan bagaimana emosi yang terkandung dalam tulisan dapat disampaikan secara utuh melalui alur cerita dan dialog antarkarakter.
Untuk film Sadali, Kuntz Agus mengakui masih menggunakan pendekatan yang sama seperti karya-karya sebelumnya, yakni menjadikan kekuatan kata sebagai senjata utama dalam bercerita.
“Untuk film kedua ini, saya merasa masih menggunakan jurus yang sama—mengandalkan kata-kata. Bahkan mungkin kali ini terasa lebih ‘maut’,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses kreatif film tersebut. Kuntz Agus mengaku, melalui Sadali, ia menemukan kesadaran baru terhadap cerita yang semula ia anggap telah selesai.
“Awalnya saya merasa ceritanya sudah selesai. Namun setelah dipikirkan kembali, ternyata masih ada perasaan-perasaan yang tertahan di dalamnya. Dan mungkin perasaan-perasaan itulah yang memang seharusnya dikeluarkan oleh masing-masing orang,” jelasnya.
Film Sadali diharapkan mampu menghadirkan pengalaman emosional yang kuat bagi penonton, sekaligus membuka ruang refleksi tentang perasaan-perasaan yang selama ini terpendam.